-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Di Ambang 2026, Ketika Kembang Api Tak Mampu Menerangi Sepi

01 Januari 2026 | 01 Januari WIB Last Updated 2026-01-01T10:34:06Z

Jarun jam merayap pelan, seolah enggan menuntaskan sisa-sisa napas tahun 2025. Tepat pada angka dua belas, di saat dunia di luar sana meledak dalam gegap gempita cahaya, di sini, di sudut ruang yang kian menyempit oleh ingatan, hati justru terasa kian berkecamuk. Ada sebuah ruang hampa yang tak mampu diisi oleh riuh rendah terompet, sebuah lubang berbentuk kerinduan yang mendalam.


Dulu, pergantian tahun adalah tentang sebuah perayaan hidup. Ada tawa yang beradu, rencana yang disusun jauh-jauh hari, dan agenda yang penuh dengan janji-janji manis. Namun kini, agenda itu hanyalah sebuah kertas kosong.


Tahun ini, meja makan terasa terlalu luas. Keluarga kecil yang dulu menjadi pusat semesta kini telah tercerai-berai. Saudara, anak dan istri, wajah-wajah yang biasanya menjadi pelengkap doa kini menjauh tak lagi disisi, meninggalkan keheningan yang menyesakkan. Di tengah dentuman kembang api, sebuah tanya melesat lirih di dalam batin. “Apakah di sana, di balik jarak yang membentang, mereka masih mengingatku di malam yang sakral ini?”


Pikiran pun mulai menerawang, melintasi lorong waktu menuju masa-masa di mana dunia terasa begitu utuh. Masa di mana kehadiran seorang bapak bukan sekadar status, melainkan sandaran utama bagi anak-anaknya.


Ada perih yang tak terkatakan saat mengenang jemari kecil yang dulu bermanja, atau tawa istri yang meredam segala lelah seusai kerja. Kenangan itu kini hadir seperti hantu yang indah namun menyakitkan. Masa di mana seorang anak mengakui keberadaan bapaknya dengan binar mata yang tulus kini terasa seperti fragmen dari mimpi yang sangat jauh.


“Dulu dunia ini lengkap karena mereka. Kini, kelengkapan itu hanyalah kepingan puzzle yang hilang, entah di mana.”


Malam semakin larut, dan kabut kenangan semakin tebal menyelimuti akal sehat. Ada sebuah harapan yang terselip di antara helaan napas yang berat. Akankah keutuhan itu kembali? Bisakah masa-masa bermanja itu terwujud lagi dalam nyata, bukan sekadar dalam lamunan malam tahun baru?


Kita seringkali menganggap waktu sebagai pencuri yang merenggut segalanya. Namun, mungkin waktu juga adalah seorang penyembuh yang sedang bekerja dalam diam. Di awal tahun 2026 ini, meski hati masih terasa hampa, setidaknya ada sebuah keberanian untuk tetap bertanya dan berharap.


Sebab, selama masih ada detak jantung di dada seorang bapak, doa-doa untuk kepulangan dan keutuhan keluarga tidak akan pernah benar-benar padam. Biarlah waktu yang memegang kunci jawabannya, sementara hati belajar untuk bertahan di tengah sunyinya penantian.


Padang, 1 Januari 2026

By: Andarizal

×
Berita Terbaru Update