-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Di Ambang Cakrawala, Menemukan Rumah di Dalam Diri

02 Maret 2026 | 02 Maret WIB Last Updated 2026-03-02T13:40:33Z


Kita sering kali lahir sebagai orang asing bagi diri kita sendiri. Sejak tangisan pertama memecah sunu, kita dipaksa untuk berlari, mengejar bayang-bayang yang dijanjikan dunia sebagai "kebahagiaan". Namun, di manakah sebenarnya letak titik tuju itu, jika setiap kali kita mencapainya, garis finis itu bergeser lebih jauh ke utara?


Dunia modern adalah panggung sandiwara yang bising. Kita dibombardir oleh ribuan suara yang mendikte siapa kita seharusnya. Namun, ada sebuah kebenaran yang hanya bisa didengar saat kita berani memeluk kesunyian.


Sunyi bukanlah ketiadaan suara, melainkan sebuah ruang di mana jiwa mulai berani berbisik. Di sanalah, di balik hiruk-pikuk ekspektasi, kita menemukan lapisan-lapisan diri yang selama ini tertutup debu rutinitas. Seperti embun yang menunggu pagi untuk nampak berkilau, kejujuran batin memerlukan ketenangan untuk menampakkan wujudnya.


Tak ada pelaut ulung yang lahir dari laut yang tenang. Begitu pula manusia, kita dibentuk oleh badai yang gagal menenggelamkan kita. Setiap luka yang kita bawa bukanlah tanda kelemahan, melainkan peta perjalanan.


 • Kegagalan adalah tinta yang mempertegas garis karakter.


 • Kesedihan adalah rintik hujan yang memastikan empati tetap tumbuh.


 • Kehilangan adalah cara semesta mengingatkan bahwa setiap genggaman punya masa kedaluwarsa.


Kita tidak perlu menjadi sempurna untuk menjadi indah. Seperti seni Kintsugi dari Jepang, retakan yang disambung dengan emas justru membuat sebuah bejana menjadi jauh lebih berharga daripada saat ia masih utuh.


  "Jangan takut pada gelapnya malam di dalam jiwamu, karena hanya di sanalah bintang-bintang harapan bisa terlihat bersinar paling terang."


Pada akhirnya, hidup bukanlah tentang menemukan siapa diri kita, melainkan tentang menciptakan siapa kita ingin menjadi. Kita adalah penulis, sekaligus tokoh utama, sekaligus pembaca dari naskah yang sedang berjalan ini.


Jangan biarkan orang lain memegang pena dalam ceritamu. Meski jemarimu gemetar dan tintamu hampir habis, teruslah menulis. Karena seindah-indahnya puisi adalah sebuah hidup yang dijalani dengan penuh keberanian, kejujuran, dan cinta yang tak menuntut balas.


Padang, 2 Maret 2026

By: Moudy Intan Fandini

×
Berita Terbaru Update