-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Di Bawah Langit Maros Sulsel, Secangkir Kopi yang Tertunda dan Semangkuk Coto yang Menyapa

13 Februari 2026 | 13 Februari WIB Last Updated 2026-02-12T23:22:25Z

Sulawesi Selatan menyapa saya dengan hembusan angin pagi yang tak biasa. Di Marumpa, sebuah sudut di Kabupaten Maros yang berbatasan erat dengan hiruk-pikuk Makassar, udara terasa lebih menggigit dari yang saya bayangkan. Sebagai seorang pengabdi kafein, langkah kaki saya pagi itu hanya memiliki satu tujuan, menemukan secangkir kopi hitam untuk memantik semangat sebelum memulai urusan kerja.


Saya menyusuri Jalan Perintis Kemerdekaan, mencari warung yang sekiranya menyajikan aroma biji kopi yang diseduh. Tak jauh dari hotel tempat saya menginap, sebuah warung sederhana berdiri dengan uap panas yang mengepul dari dapurnya. Namun, rencana saya harus berbelok arah. Saat menanyakan menu favorit saya, sang pemilik warung menggeleng ramah.

 

 "Kopi tidak ada, Pak. Di sini kami hanya menyediakan Coto dan lontong."


Ada jeda sejenak dalam benak saya. Di tanah yang dikenal dengan budaya Warkop-nya yang kuat, saya justru mendarat di sebuah benteng tradisi kuliner yang spesifik. Rasa penasaran akhirnya mengalahkan ketergantungan saya pada kopi. "Tolong dibuatkan satu porsi," ujar saya.


Hanya dalam hitungan detik, sebuah mangkok porselen bermotif khas hadir di hadapan saya. Kuahnya cokelat keruh, kaya akan sari pati kacang tanah dan gempuran rempah-rempah rahasia. Di sampingnya, tersaji ketupat-ketupat mungil yang dibalut janur kelapa, sebuah pemandangan yang bagi saya, pendatang baru di tanah ini, terasa sangat otentik.


Saya membuka ikatan janur itu dengan perlahan, membiarkan nasi padat di dalamnya menyatu dengan kuah Coto yang masih mendidih. Ternyata, ada harmoni yang luar biasa saat sesendok kuah rempah itu bertemu dengan tekstur ketupat yang lembut. Rasa gurih yang dalam seolah langsung menyebar ke seluruh tubuh, mengusir dingin yang sedari tadi mengepung. Inilah sambutan selamat datang yang sesungguhnya dari Sulawesi Selatan.


Perjalanan rasa pagi itu ditutup dengan sebuah kejutan kecil yang menenangkan hati. Setibanya kembali di hotel, resepsionis menyapa dengan hangat, "Bang, kopi sudah tersedia di ruang tengah."


Alhamdulillah. Gumam saya dalam hati. Kopi yang saya cari sejak fajar akhirnya menyapa, namun ia datang tepat setelah saya mengenal kehangatan Coto Makassar.


Sulawesi Selatan, dengan segala keramahannya, telah memberi pelajaran pertama bagi saya dalam kunjungan kerja ini, bahwa terkadang kita tidak mendapatkan apa yang kita cari dengan segera, agar kita bisa menikmati apa yang memang sudah disediakan alam untuk kita.


Makasar, 13 Februari 2026

Oleh: Andarizal

×
Berita Terbaru Update