Ada sebuah ironi yang sering tertinggal setelah pintu perpisahan tertutup rapat. Meski kata "selesai" sudah diucapkan, mata yang dulu menatapmu dengan cinta seringkali tidak benar-benar berpaling. Ia masih di sana, di balik layar kaca, di sela-sela cerita teman bersama, atau dalam heningnya pengamatan rahasia.
Namun, jangan terburu-buru menghias hati dengan harapan. Sebab, seringkali, tatapan itu bukanlah sebuah undangan untuk pulang.
Ketika seseorang memutuskan untuk pergi, ia sebenarnya sedang membuat sebuah taruhan besar dengan dirinya sendiri. Ia bertaruh bahwa hidupnya akan lebih baik tanpa kehadiranmu, dan sebaliknya, ia berasumsi duniamu akan sedikit meredup tanpanya.
Saat ia memperhatikanmu sekarang, ia sebenarnya sedang mencari validasi. Ia ingin memastikan bahwa keputusannya tidak salah. Jika ia melihatmu hancur, egonya akan mendapat asupan kekuatan. Ia akan merasa bahwa dirinya adalah pusat semestamu, oksigen yang tanpanya kamu sesak napas.
Namun, bagaimana jika yang ia temukan adalah sesuatu yang di luar dugaannya?
Bayangkan ketika ia menoleh, ia tak lagi menemukan sosok yang meratapi kenangan di pojok kamar. Ia justru melihatmu sedang mendaki tangga-tangga baru. Kamu yang lebih sehat, kamu yang lebih mapan, kamu yang memiliki binar mata yang lebih jernih.
Di titik itulah, bukan hatinya yang terluka, melainkan egonya yang terpukul. Ia menyadari bahwa ia bukan lagi tokoh utama dalam ceritamu. Ia hanya penonton di kursi belakang, menyaksikan sebuah pertunjukan hebat yang tidak lagi melibatkan dirinya.
Pesan yang paling dalam dari perjalanan ini adalah tentang tujuan.
Banyak dari kita yang bangkit hanya karena ingin "memperlihatkan" padanya bahwa kita bisa. Kita bekerja keras, berolahraga, dan sukses hanya agar ia menyesal. Namun sadarlah, selama motivasimu adalah penyesalannya, maka ia masih memegang kendali atas emosimu. Kamu masih hidup di bawah bayang-bayangnya.
Kemenangan sejati terjadi saat fokusmu bergeser sepenuhnya. Kamu membangun nilai, memupuk harga diri, dan merancang masa depan bukan sebagai proyektil untuk menyerang masa lalu, melainkan sebagai kado untuk dirimu sendiri.
"Kesuksesan adalah balas dendam terbaik, tapi kebahagiaan yang tulus adalah saat kamu lupa bahwa kamu sedang melakukan balas dendam."
Suatu hari nanti, kamu akan sampai pada sebuah pagi yang tenang. Kamu akan menyadari bahwa kamu tidak lagi mengecek siapa yang melihat story-mu, siapa yang bertanya tentang kabarmu, atau siapa yang memperhatikanmu dari kejauhan.
Pada saat itu, kamu telah sampai di puncak. Kamu tidak lagi peduli apakah ia melihatmu atau tidak, apakah ia menyesal atau bangga. Kamu sudah terlalu sibuk mencintai versi dirimu yang baru, hingga suara-suara dari masa lalu hanya terdengar seperti deru angin yang lewat begitu saja.
Karena pada akhirnya, hidupmu bukan tentang membuktikan bahwa ia salah, tapi tentang membuktikan bahwa kamu sangat berharga.
Padang, 27 Februari 2026
By: Andarizal
