BANTEN – Puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang digelar di Provinsi Banten pada Senin pagi (9/2) diwarnai suasana haru dan kekecewaan. Presiden Prabowo Subianto dipastikan tidak hadir dalam agenda besar tahunan insan pers tersebut, sebuah keputusan yang memicu reaksi keras dari para jurnalis, terutama mereka yang datang dari berbagai pelosok daerah.
Pantauan di lokasi acara sekitar pukul 08.15 WIB menunjukkan suasana yang berbeda dari protokoler kepresidenan biasanya. Pengamanan di kawasan acara tampak tidak begitu ketat, selaras dengan informasi bahwa Presiden hanya mengutus seorang Wakil Menteri untuk mewakili pemerintah pusat. Cuaca mendung yang menyelimuti Banten seolah mempertegas suasana redup di lokasi kegiatan.
Sejumlah jurnalis menilai, momen HPN seharusnya menjadi panggung strategis bagi kepala negara untuk memperkuat komitmen pemerintah terhadap kebebasan pers dan mendengarkan langsung aspirasi para kuli tinta.
"Kehadiran Presiden sangat kami harapkan. Ini adalah hari besar bagi seluruh insan pers di Indonesia, seharusnya mendapatkan perhatian langsung dari kepala negara sebagai bentuk apresiasi terhadap pilar keempat demokrasi," ujar salah satu perwakilan jurnalis daerah di lokasi.
Ketidakhadiran Presiden dianggap mengurangi bobot politis dan esensi dari peringatan HPN tahun ini. Bagi jurnalis daerah, kesempatan bertemu langsung dengan kepala negara adalah ruang istimewa untuk menyampaikan tantangan riil yang dihadapi media di tingkat lokal.
Meskipun diselimuti rasa kecewa, rangkaian acara HPN 2026 tetap berjalan sesuai jadwal. Antusiasme peserta tidak surut, meski atmosfer kegiatan terasa lebih emosional dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Para jurnalis berharap, meski Presiden absen secara fisik, komitmen terhadap kemerdekaan pers tetap menjadi prioritas dalam kebijakan pemerintah ke depan. (And)
