-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Ditengah Bencana, Ny. Dian Puspita Berikan Bantuan Medis Krusial bagi Korban Banjir Bandang

04 Desember 2025 | 04 Desember WIB Last Updated 2025-12-04T01:51:07Z

PADANG - 3 DESEMBER 2025 – Di tengah sisa-sisa trauma dan lumpur yang ditinggalkan oleh bencana banjir bandang, sebuah kisah kepedulian yang hangat terukir di posko pengungsian di Guo, Kecamatan Kuranji. Posko sederhana yang dulunya adalah sebuah rumah kini menjadi pusat denyut harapan bagi puluhan warga yang kehilangan segalanya.


Kedatangan Ny. Dian Puspita Fadly Amran, istri Wali Kota Padang, pada Rabu sore itu, bukan sekadar kunjungan seremonial biasa. Dengan latar belakang sebagai dokter spesialis jantung, kedatangannya membawa serta keterampilan yang sangat dibutuhkan di masa darurat.


Saat melangkah masuk, Ny. Dian Puspita langsung tertuju pada seorang wanita lansia bernama Yuliana yang duduk lesu di ruang tengah. Usianya sudah 86 tahun, dan di tengah keramaian pengungsian, wajahnya memancarkan kelelahan yang mendalam.


“Ibu sakit apa?” tanya Dian Puspita lembut, berjongkok di hadapan Yuliana.


Dengan suara pelan, Yuliana menceritakan beban yang dipikulnya, bukan hanya karena kehilangan akibat banjir, tetapi juga karena penyakit yang telah lama bersarang: sakit jantung. “Jantung saya sakit, sudah sering keluar masuk rumah sakit,” tuturnya, matanya menerawang. Penyakit ini telah menemaninya selama lima tahun.


Saat itulah, naluri dan profesionalisme sang dokter muncul. “Kebetulan saya dokter jantung,” kata Dian Puspita, matanya memancarkan tekad. “Kita periksa kesehatan ibu dulu ya.”


Yuliana mengangguk, menyerahkan diri pada pemeriksaan yang tak terduga di tengah situasi darurat ini.


Ruangan yang tadinya ramai dengan isak tangis dan celoteh anak-anak mendadak sunyi. Dengan hati-hati, Dian Puspita memasang stetoskop. Ia meminta Yuliana berbaring, kemudian menempelkan alat diagnostik itu ke dada sang nenek, mendengarkan dengan saksama setiap detak kehidupan yang berjuang.


Setelah beberapa saat, Yuliana didudukkan kembali. Sebuah senyum melegakan terulas di wajah dokter itu. “Jantung ibu stabil,” ujarnya menenangkan.


Namun, pemeriksaan itu mengungkap masalah penting lainnya: obat rutin Yuliana telah menipis. Dalam kondisi bencana, obat adalah nyawa. Tanpa ragu, Dian Puspita segera menyediakan obat jantung untuk persediaan sepuluh hari. Ia berpesan agar Yuliana tetap rutin kontrol dan minum obat. “Mudah-mudahan semua lekas membaik ya Bu,” katanya tulus.


Kepedulian Dian Puspita tak berhenti di situ. Di sudut lain posko, ia mendapati seorang lelaki lansia yang juga tengah sakit. Melihat kondisinya, ia menduga lelaki itu memiliki riwayat penyakit paru-paru dan jantung. Bencana telah merenggut segalanya, termasuk obat jantungnya yang hanyut terbawa derasnya air.


Sekali lagi, ia menjalankan perannya. Setelah memeriksa kondisi kesehatan lelaki itu, Dian Puspita memberikan obat jantung untuk persediaan sepuluh hari. Ia juga memastikan langkah tindak lanjut dengan menyarankan agar lelaki itu segera kontrol ke dokter spesialis jantung di RSUD Rasidin Padang.


Kunjungan ini diakhiri dengan penyerahan bantuan logistik bagi seluruh korban terdampak, yang dibawa bersama seluruh pengurus Dekranasda Kota Padang. Namun, lebih dari sekadar logistik, Dian Puspita memberikan sesuatu yang tak ternilai: pemeriksaan medis yang mendesak dan jaminan bahwa di tengah kehancuran, masih ada tangan yang siap mengulurkan pertolongan dan harapan bagi detak jantung yang rapuh. (And) 

×
Berita Terbaru Update