-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Menenun Solidaritas di Atas Etika, Visi Andarizal Membawa KJI Menjawab Tantangan Zaman

01 Maret 2026 | 01 Maret WIB Last Updated 2026-02-28T23:04:29Z


PADANG - 28 FEBRUARI 2026 - Di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap kali mengaburkan batas antara fakta dan opini, dunia pers Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar kecepatan. Ia membutuhkan jangkar. Bagi Andarizal, Ketua Umum DPP KJI (Kolaborasi Jurnalis Indonesia), jangkar tersebut adalah kolaborasi yang berlandaskan integritas.


Dalam sebuah diskusi mengenai arah organisasi, Andarizal memaparkan visi besar yang menempatkan DPP-KJI bukan sekadar sebagai struktur kekuasaan, melainkan sebagai navigator dan pelindung bagi para jurnalis dari Sabang sampai Merauke.


Bagi Andarizal, mengelola organisasi jurnalis di tingkat nasional bukan perkara instruksi satu arah. DPP-KJI hadir sebagai fasilitator yang memastikan setiap pengurus di tingkat provinsi, kabupaten, hingga kota memiliki detak nadi yang sama dengan pusat.


"Peran kami adalah memastikan keselarasan visi," ungkapnya. Hal ini diwujudkan melalui standarisasi tata kelola yang ketat sesuai AD/ART dan supervisi program yang relevan dengan tantangan lokal. Namun, yang paling krusial adalah fungsi advokasi. Di daerah-daerah yang rawan gesekan hukum, DPP hadir sebagai perisai bagi jurnalis yang menghadapi hambatan profesi saat menjalankan tugas sucinya.


Dahulu, jurnalisme sering dianggap sebagai perlombaan "siapa cepat dia dapat". Namun, Andarizal menegaskan bahwa di era disinformasi, filosofi itu harus bergeser menjadi "siapa yang paling akurat dan berdampak".


Kolaborasi menjadi kunci. Dengan kekuatan kolektif, jurnalis tidak lagi bekerja sendiri dalam memverifikasi hoaks. Terjadi pertukaran ilmu yang organik, jurnalis senior membagikan kearifan dan teknik investigasi, sementara jurnalis muda menyuntikkan penguasaan teknologi media baru. Inilah yang membangun posisi tawar pers Indonesia agar tidak mudah diintervensi oleh tekanan eksternal.


Andarizal menyadari bahwa kualitas media lokal sangat bergantung pada moralitas pelakunya. Baginya, integritas adalah napas organisasi.

 

 "Integritas dimulai dari pemimpinnya. DPP harus menjadi contoh dalam bersikap sebelum menuntut hal yang sama dari daerah," tegasnya.


Melalui edukasi Kode Etik Jurnalistik (KEJ) yang konsisten dan sistem monitoring rekam jejak, KJI memastikan bahwa identitas jurnalis tidak disalahgunakan untuk kepentingan di luar profesi.


Melihat potensi wilayah strategis seperti Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara, Andarizal mendorong program "KJI Digital Transformation & Literacy". Tujuannya jelas, agar jurnalis daerah mahir mengelola konten multimedia dan memiliki standar kompetensi nasional melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW).


Namun, transformasi teknologi tidak akan berarti tanpa regenerasi yang sehat. Strategi KJI adalah mempertemukan dua kutub, prinsip jurnalisme dari para senior dan inovasi dari generasi muda. Melalui program mentorship dan pemberian ruang kreatif seperti pengelolaan podcast atau media sosial, jurnalis muda diajak memiliki tanggung jawab moral terhadap organisasi.


Visi yang diusung Andarizal untuk DPP-KJI adalah sebuah ajakan untuk kembali ke khittah jurnalisme, melayani publik dengan kebenaran melalui kebersamaan. Dengan kolaborasi, tantangan seberat apa pun di era digital bukan lagi ancaman, melainkan peluang untuk memperkuat martabat pers Indonesia. **

×
Berita Terbaru Update