Di bawah langit biru yang tampak sunyi, Jembatan Kuranji bpas berdiri kokoh, namun menyimpan luka. Ia bukan sekadar penghubung dua sisi, melainkan saksi amarah alam yang merobek Kota Padang. Air bah berwarna kuning pekat telah surut, menyisakan timbunan pilu, gelondongan-gelondongan kayu yang tersangkut.
Warga bergumam, nadanya penuh tanya. "Jika ini tumbang, mengapa tak ada jejak serabut akar? Mengapa yang datang adalah batang yang terpotong, seolah hasil dari sebuah janji yang dilanggar?"
Di balik pertanyaan lugu itu, tersembunyi diagnosis pahit. Kayu gelondongan ini adalah surat gugatan alam. Mereka bukan datang dari pohon yang dicabut paksa oleh air, melainkan dari hulu yang telah kehilangan perisai hijaunya, dari hutan yang dirayu goda, di mana gergaji bekerja lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan akar untuk mencengkeram bumi. Gelondongan itu adalah air mata hutan yang kini menjelma menjadi bencana di muara.
Kita tidak boleh hanya membersihkan puing dan melupakan pesan ini. Solusi kita haruslah melampaui tanggap darurat, menyentuh hingga ke relung jiwa hulu. Inilah saatnya membangun Narasi Padang yang Hijau dan Tangguh.
1. Memulihkan Perjanjian di Hulu (Rekonsiliasi Ekologis)
Solusi pertama adalah tanam kembali. Bukan sekadar menanam, namun memulihkan spesies endemik yang kuat akarnya (seperti Baringin, Surian, atau jenis-jenis hutan hujan tropis lainnya) di sepanjang sempadan sungai dan di lahan-lahan kritis. Kita harus mengubah hulu dari 'gudang kayu' menjadi 'Benteng Air' alami.
Kita harus mendengar bisikan tanah, menanam tunas sebagai ikrar, agar setiap akar menjadi janji bagi keselamatan anak cucu di hilir.
2. Menghidupkan Kembali 'Mamangan Adat' (Kearifan Lokal)
Perluasan program reboisasi harus beriringan dengan penguatan hukum adat dan kearifan lokal. Masyarakat Minangkabau memiliki mamangan (petuah) yang mengajarkan harmoni dengan alam. Libatkan Niniak Mamak dan pemuda dalam pengawasan hutan. Mereka adalah penjaga pertama, suara mereka adalah alarm dini yang lebih akurat daripada sirene manapun.
Ketika nagari menjaga rimba, maka rimba pun akan menjaga nagari dari murka air.
3. Transformasi Ekonomi. Dari Kayu Menjadi Jasa Lingkungan
Kita harus mengalihkan tumpuan ekonomi masyarakat hulu. Beri insentif bagi mereka yang menjaga hutan, alih-alih merusaknya. Ubah fungsi hutan dari sumber material mentah menjadi Jasa Lingkungan penyedia air bersih, penahan bencana, dan atraksi ekowisata. Setiap pohon yang berdiri bernilai lebih mahal daripada saat ia tumbang.
4. Audit Tata Ruang yang Berani
Pemerintah Kota dan Provinsi harus melakukan audit tata ruang yang jujur dan berani. Di mana terjadi izin yang tidak sejalan dengan daya dukung lingkungan? Keseimbangan antara pembangunan dan alam harus ditegakkan tanpa kompromi. Kita harus pastikan bahwa setiap tiang pancang yang ditancapkan tidak menodai aliran sungai atau merusak daerah resapan.
Kayu gelondongan di Jembatan Kuranji adalah monumen keserakahan masa lalu. Kini, saatnya kita menjawabnya dengan seribu tunas harapan.
Padang, Ranah Minang yang indah, harus bangkit dari lumpur ini, tidak hanya membersihkan diri, tetapi juga menyucikan niat. Mari kita jadikan bencana ini sebagai titik balik untuk merajut kembali harmoni antara manusia dan alam, agar air yang turun dari langit adalah berkah, bukan bah yang mematikan.
Apa langkah nyata pertama yang harus dilakukan Pemerintah Kota Padang untuk menguatkan pengawasan di daerah hulu? Hanya waktu yang akan menjawab.
Padang, 7 Desember 2025
Penulis: Andarizal, (Wartawan biasa)
