-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Ilusi Kepercayaan, Saat Tirai Pura-Pura Jatuh

05 Desember 2025 | 05 Desember WIB Last Updated 2025-12-05T15:10:52Z

Di antara labirin hubungan manusia, ada satu jenis kekecewaan yang jauh lebih pahit daripada sekadar perpisahan. Ia bukan datang dari melihat buah hati perlahan berubah, atau jalannya berganti arah. Bukan.


Kekecewaan yang paling menghujam adalah ketika kita akhirnya tersadar bahwa panggung di mana kita menaruh seluruh hati dan jiwa ternyata adalah panggung sandiwara.


Ketika seseorang berubah entah menjadi dingin, sibuk, atau menjauh hati memang terluka, tetapi pikiran masih bisa mencari pembenaran yang menenangkan. “Mungkin ini adalah takdir,” kita berbisik. “Mungkin ia sedang melewati fase baru,” kita mencoba memahami. Perubahan adalah badai alamiah yang terkadang harus kita terima sebagai bagian dari siklus kehidupan. Kita berduka atas apa yang hilang, namun dasarnya tetap kokoh, apa yang pernah ada, adalah nyata.


Namun, bayangkan jika yang berubah bukanlah sosoknya, melainkan makna dari seluruh keberadaannya dalam hidup kita.


Kita tidak kecewa karena ia berganti warna. Kita kecewa karena ia selama ini hanyalah bayangan yang diproyeksikan, dan bukan tubuh yang sesungguhnya.


Yang paling menyakitkan bukanlah saat kita melihat dia hari ini. Yang paling meluluhlantakkan adalah saat kita melihat kembali semua kenangan masa lalu, dan tiba-tiba, semua itu terasa hampa dan tercemar.


Setiap senyum hangat yang dulu kita anggap tulus, kini terasa seperti baris dialog yang dilatih. Setiap janji yang dulu kita simpan sebagai permata berharga, kini menjadi properti panggung yang mudah dibuang. Sosok yang kita perjuangkan siang dan malam, sosok yang kita bela di hadapan dunia ternyata adalah topeng yang dikenakan dengan sempurna.


Kita tidak hanya kehilangan dia yang sekarang. Kita kehilangan versi terbaik dari diri kita sendiri, versi yang percaya, versi yang berani berharap, versi yang mencurahkan segalanya untuk sebuah fatamorgana kebaikan.


Kekecewaan ini menggali hingga ke akar. Ia merenggut bukan hanya rasa sayang, tetapi juga naluri kita untuk mempercayai. Setelah tirai kepura-puraan itu jatuh, kita tidak lagi hanya bertanya, "Mengapa dia melakukan ini?" Kita mulai bertanya, "Apakah aku sebodoh itu?" atau yang lebih menakutkan, "Siapa lagi di sekitarku yang sedang memakai topeng?"


Inilah penyesalan yang paling berat. Menyadari bahwa perjuangan kita yang paling tulus ternyata hanya menjadi pupuk bagi ilusi orang lain.


Namun, dalam kehancuran itu, ada benih kebangkitan. Kita memang kehilangan seseorang yang kita kasihi, tetapi kita mendapatkan kembali sebuah hadiah tak ternilai. Mata yang lebih tajam, yang kini mampu membedakan cahaya bintang yang sesungguhnya dari pantulan kaca yang menipu.


Semoga hati yang terluka ini menjadi kompas baru yang menuntun kita hanya pada dermaga yang benar-benar kokoh dan jujur.  


Padang, 5 Desember 2025

By: Andarizal

×
Berita Terbaru Update