PADANG PARIAMAN – 3 DESEMBER 2025 - Di tengah hiruk pikuk dan lumpur sisa bencana banjir dan longsor yang melanda Padang Pariaman, hati nurani dan kepedulian tulus tetap menemukan jalannya. Ketua DPRD Padang Pariaman, Aprinaldi, menyisihkan sejenak kesibukan meninjau korban, demi sebuah kunjungan yang membawa kehangatan ke sebuah sudut terpencil.
Didampingi istri tercinta, Ny. Yona Aprinaldi, dan Wali Nagari setempat, langkah keduanya tertuju ke Korong Jirai Baruah, Nagari Kapalo Koto, Kecamatan Nan Sabaris. Mereka mendatangi kediaman seorang warga yang tak hanya menjadi korban keadaan, tetapi juga ketidakberuntungan hidup.
Di sanalah tinggal Abdulrahman, seorang pria renta berusia sekitar 70 tahun. Sejak remaja, dunia baginya telah diselimuti kegelapan abadi karena kebutaan. Kisah hidupnya adalah potret kesendirian, ia hidup sebatang kara di gubuk kayu tua, sepeninggal kedua orang tuanya.
Rumah yang ia tempati adalah saksi bisu perjuangannya. Ia bukanlah tempat berlindung, melainkan hanya rangka lapuk yang menantang usia. Lantainya hanya beralaskan papan-papan kayu yang sudah keropos, mengancam patah kapan saja. Dindingnya? Penuh dengan lubang-lubang menganga, menjadikannya tak berdaya menghadapi terjangan angin dingin malam, apalagi rembesan air hujan yang dengan mudah masuk ke dalam.
Beruntung, di tengah keterbatasannya, masih ada uluran tangan tetangga. Wali Nagari menuturkan bahwa Abdulrahman bertahan hidup berkat kebaikan hati para tetangga yang bergantian mengantar makanan dan memenuhi kebutuhan pokoknya sehari-hari.
Saat Aprinaldi dan Ny. Yona Aprinaldi tiba, suasana haru langsung menyelimuti. Meski tak dapat melihat wajah para tamunya, Abdulrahman menyambut mereka dengan senyum hangat senyum seorang diri yang lama mendamba perhatian. Pria tua itu tampak bahagia dan terharu, merasakan kehadiran dan kepedulian yang datang langsung dari pucuk pimpinan daerah.
Ny. Yona Aprinaldi terlihat sangat tersentuh. Matanya berkaca-kaca melihat kondisi Abdulrahman yang memprihatinkan. Ia segera menyerahkan sedikit bantuan, bukan hanya materi, melainkan juga dukungan moril yang tak ternilai harganya.
“Kami sangat prihatin melihat kondisi Bapak Abdulrahman. Beliau hidup seorang diri di rumah yang sangat sederhana. Semoga bantuan yang kami berikan ini dapat sedikit meringankan beban beliau,” ujar Ny. Yona Aprinaldi, menyampaikan isi hatinya.
Aprinaldi turut mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam. Kunjungan ini baginya adalah pengingat betapa banyak masyarakat yang membutuhkan uluran tangan, terutama mereka yang rentan.
“Kita berharap agar dinas terkait, khususnya pemerintah daerah setempat, dapat memberikan perhatian lebih kepada Bapak Abdulrahman. Beliau adalah bagian dari masyarakat kita yang harus kita bantu dan kita lindungi,” tegas Aprinaldi, menyerukan agar pemerintah daerah segera mengambil tindakan.
Kunjungan tulus ini diharapkan bukan sekadar peristiwa singkat, melainkan sebuah pemicu. Sebuah pemicu yang membuka mata hati para pihak berwenang untuk memberikan bantuan rekonstruksi yang lebih besar dan cepat bagi Abdulrahman.
Lebih jauh lagi, Aprinaldi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meneladani semangat kepedulian ini. “Mari kita bersama-sama membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan. Dengan saling membantu, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera dan harmonis,” ajaknya.
Harapan kini tertumpu di pundak banyak pihak, semoga dengan adanya perhatian dari berbagai sisi, Abdulrahman dapat segera menempati tempat tinggal yang layak, sebuah rumah yang bukan lagi gubuk reot, melainkan tempat berlindung yang nyaman di sisa usia senjanya. (And)
