-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Ujian dari Langit, Makna Bencana dan Seruan Solidaritas di Ranah Minang

08 Desember 2025 | 08 Desember WIB Last Updated 2025-12-08T05:16:56Z

PADANG - 7 DESEMBER 2025 - Di tengah duka yang menyelimuti Ranah Minang, setelah serangkaian bencana hidrometeorologi merenggut ketenangan, Minggu pagi menjadi momentum refleksi mendalam. Dalam kegiatan Subuh Mubarak yang khidmat di Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, berdiri di hadapan jamaah, tidak hanya sebagai pemimpin daerah, tetapi juga sebagai pengingat spiritual.


Dengan suara yang menenangkan, Gubernur Mahyeldi menyampaikan sebuah pesan fundamental, bencana alam yang melanda mulai dari banjir bandang, longsor yang memutus akses, hingga hujan ekstrem yang tiada henti bukanlah sekadar fenomena alam biasa.


 “Rangkaian musibah ini,” ujar Mahyeldi, “adalah ujian, teguran, sekaligus peringatan dari Allah SWT.”


Pesan ini menempatkan musibah dalam bingkai ketuhanan, mengingatkan seluruh umat untuk segera melakukan muhasabah (introspeksi) dan menyadari kebesaran Sang Pencipta. Beliau menggarisbawahi bahwa kesedihan yang dialami sejatinya adalah tangga untuk meraih derajat yang lebih tinggi.


“Surah Al-Baqarah ayat 286 mengingatkan kepada kita bahwa ujian bukanlah hukuman,” tutur Mahyeldi, sambil memperkuat keyakinan jamaah. “Ia adalah cara Allah mengangkat derajat kita, menghapus dosa-dosa kita, serta menguatkan solidaritas dan kepedulian di antara kita.”


Namun, spiritualitas tidak lantas menafikan tanggung jawab duniawi. Gubernur menegaskan bahwa di tengah tuntutan untuk sabar dan ikhlas secara personal, aparatur pemerintah dituntut untuk bersikap tanggap dan sigap secara profesional.


Narasi penanganan bencana pun menjadi kisah heroik tanpa henti. Beliau menceritakan bagaimana perangkat daerah dan instansi terkait bekerja "siang dan malam", menembus batas lelah demi mengevakuasi warga dari bahaya, membuka akses jalan yang tertutup longsoran, dan memastikan pelayanan terbaik sampai kepada masyarakat terdampak.


Dalam hiruk pikuk pendistribusian bantuan, Mahyeldi memberikan instruksi tegas yang mencerminkan empati mendalam. “Saya minta agar tepat sasaran,” pintanya. Bantuan tidak boleh hanya menumpuk di posko, melainkan harus dipastikan sampai langsung kepada warga yang benar-benar terdampak di pelosok-pelosok.


Apresiasi khusus disampaikan kepada seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) yang telah berkorban. “Kami berdoa semoga setiap tetes keringat menjadi amal jariyah,” ungkapnya, memanjatkan doa agar segala kebaikan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda.


Meskipun demikian, Gubernur mengingatkan bahwa fase kritis belum usai. Tugas berat pemulihan, pembersihan, dan pendataan masih menunggu. Ia menyerukan kepada seluruh pihak untuk terus memelihara semangat, empati, dan profesionalisme.


Mahyeldi menutup pernyataannya dengan memberikan penghormatan tertinggi kepada rakyatnya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana karakter luhur Ranah Minang terpancar saat musibah.


  “Saya menyaksikan sendiri bahwa masyarakat Sumbar adalah masyarakat yang tangguh. Meski berduka, mereka tetap sabar, bergotong royong, saling menguatkan, dan tidak saling menyalahkan. Inilah nilai luhur kearifan lokal kita,” pungkasnya.


Pernyataan Gubernur ini menjadi penutup yang menguatkan hati dalam kegiatan Subuh Mubarak, setelah tausiyah yang disampaikan oleh Ustaz Dr. H. Amirsyah Tambunan, S.H., dengan tema yang sangat relevan. “Hidupmu Kan Selalu Diuji, Maka Selalulah Ikhlas dan Bersabar.” Sebuah pesan yang kini menjadi suluh di tengah upaya Sumatera Barat bangkit dari keterpurukan alam. (And) 

×
Berita Terbaru Update