Di Kota Padang, di mana awan berarak rendah di atas Bukit Barisan dan aroma laut memeluk erat setiap sudut pasar, tersebutlah sebuah kisah tentang roda nasib yang berputar. Ini bukan sekadar cerita tentang kenaikan jabatan, melainkan sebuah ode bagi keteguhan hati.
Dahulu, dunia Mastilizal Aye hanyalah sebatas kaca depan angkot rute Pasar Raya Siteba. Ia adalah ksatria aspal yang bertarung melawan terik, menaklukkan kemacetan dengan kesabaran yang ditempa oleh kebutuhan. Tangannya yang legam karena sinar matahari adalah tangan yang dengan telaten menghitung recehan, memastikan asap dapur tetap mengepul.
Di ruang kemudi yang sempit itu, ia belajar tentang sosiologi yang paling jujur. Ia mendengar napas lelah pedagang pasar, keluhan mahasiswa yang mengejar kelas, hingga harapan-harapan kecil orang tua. Baginya, angkot itu adalah universitas kehidupan, tempat ia belajar bahwa setiap orang punya beban, dan setiap beban butuh pendengar.
Namun, takdir tidak membiarkan nuraninya terkurung dalam kabin kendaraan selamanya. Ada panggilan yang lebih besar dari sekadar mengantar penumpang dari satu titik ke titik lain. Ia melihat ketimpangan, ia merasakan genangan air yang mengganggu warga, dan ia mencium aroma ketidakadilan yang harus dibenahi.
Perlahan namun pasti, ia menanggalkan handuk putih yang melingkar di lehernya untuk mengenakan kemeja pengabdian. Ia membawa suara-suara bising dari terminal menuju sunyinya ruang sidang. Perjuangannya melalui Partai Gerindra bukanlah sebuah ambisi buta, melainkan sebuah revolusi diri.
"Ia tidak datang dengan tangan kosong, ia membawa memori tentang aspal yang panas, tentang rakyat yang merindukan perubahan, dan tentang janji yang harus ditepati."
Kini, di bawah panji Wakil Ketua DPRD Kota Padang, Mastilizal Aye berdiri sebagai mercusuar bagi mereka yang dulu duduk di bangku belakang angkotnya. Kursi empuk pimpinan tidak membuatnya amnesia akan kerasnya jok pengemudi. Justru, ingatan akan masa lalu itu menjadi kompas moralnya dalam setiap ketukan palu sidang.
Setiap kebijakan yang ia telurkan tentang drainase yang lancar agar pasar tak lagi kebanjiran, atau tentang kemajuan olahraga untuk anak muda adalah puisi tindakan. Ia adalah bukti hidup bahwa garis tangan bisa diubah dengan kerja keras yang dibasuh doa.
Mastilizal Aye adalah pengingat bagi kita semua, bahwa posisi hanyalah alat, namun karakter adalah abadi. Dari seorang pengemudi yang menatap lampu merah, kini ia menjadi sosok yang membantu menyalakan lampu hijau bagi masa depan Kota Padang.
Kisah ini adalah pengingat bahwa takhta tertinggi adalah pengabdian, dan guru terbaik adalah perjalanan yang dimulai dari titik terbawah.
Padang, 17 Januari 2026
Oleh: Andarizal
