-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Seni Membaca Dusta, Saat Janji Hanyalah Tempat Pengungsian

05 Januari 2026 | 05 Januari WIB Last Updated 2026-01-04T22:52:49Z

Ada sebuah jenis luka yang tidak berdarah, namun denyutnya terasa hingga ke tulang belakang. Ia bermula dari kedatangan seseorang yang membawa tumpukan janji muluk, seolah-olah ia adalah penyejuk di tengah padang pasir. Namun, waktu adalah pengungkapan tabir yang paling jujur. Perlahan-lahan, kita menyadari bahwa kehadirannya bukanlah untuk menetap, melainkan untuk bersembunyi.


Kita sering kali terpukau oleh narasi manis saat seseorang sedang terdesak. Dalam kondisi terjepit, kata-kata sering kali hanya menjadi alat perlindungan diri, bukan cerminan isi hati yang rapi. Tanpa sadar, kita membuka pintu rumah hati lebaran untuk seseorang yang hanya ingin berkumpul di ruang pengungsi.


Saat badai dalam hidupnya reda, ia pergi tanpa sempat menata kembali ruang yang ia sempat acak-acak. Ia pergi tanpa kabar, membawa sisa-sisa bualan yang dulu ia sebut sebagai masa depan.


Dalam perjalanan yang merebut kembali itu, sering kali ada sunyi yang disalahartikan. Gosip dan bisik-bisik orang luar menjadi bising yang mengganggu, namun ada sebuah keputusan luar biasa yang diambil, memilih jalan hening.


Mempertahankan genggaman saat segalanya goyah bukanlah tanda kelemahan. Itu adalah bukti dari sebuah jiwa yang terikat pada komitmen, meskipun pada akhirnya, genggaman itu dibiarkan secara sepihak. Kita belajar bahwa ketulusan tidak selalu berbalas kesetiaan, dan itu adalah kenyataan pahit yang harus ditelan demi sebuah kedewasaan.


“Alhamdulillah,” sebuah kata yang mungkin terdengar ganjil bagi mereka yang sedang patah, namun menjadi mantra penyembuh bagi mereka yang telah paham. Dari puing-puing janji manis itu, lahirlah sebuah pelajaran berharga tentang kehati-hatian.


Kini, kita memahami bahwa:


 * Manisnya ucapan sering kali hanyalah selaput tipis yang menutupi debu.


 * Kehilangan dia yang tidak tulus sebenarnya adalah sebuah keuntungan besar yang terselubung.


 * Waspada bukanlah tanda kita menutup diri, melainkan cara kita menghargai hati agar tidak lagi disinggahi oleh sembarang orang.


Kini, biarlah ia pergi dengan sunyinya. Kepergiannya tanpa berita adalah jawaban paling tegas bahwa semua ucapannya hanyalah bualan di kala terjepit. Kita tidak lagi menunggu kabar, karena kita telah menemukan sesuatu yang lebih berharga, diri kita yang lebih kuat dan terjaga.


Di balik retakan itu, cahaya kebijaksanaan masuk. Kita telah belajar bahwa tidak semua tangan yang bertekad untuk menetap, dan tidak semua kata indah layak untuk dipercaya.


Padang, 5 Januari 2026

Oleh: Andarizal

×
Berita Terbaru Update