Pernahkah kita benar-benar menatap mata seorang pria yang menyandang status duda? Di mata dunia, mereka sering kali terlihat sebagai sosok yang mandiri, kuat, bahkan mungkin tampak lebih bebas. Namun, sebagai wanita, jika kita meluangkan waktu sejenak untuk melepaskan segala prasangka, kita akan menemukan sebuah dunia yang sangat berbeda di balik tawa mereka yang terdengar normal.
Banyak yang mengira menjadi duda hanyalah tentang kehilangan pasangan. Padahal, bagi seorang lelaki, status ini adalah kehilangan identitas. Ia bukan hanya kehilangan cinta, tapi juga kehilangan "peran" dan "tempat pulang". Ia kehilangan seseorang yang dulu menjadi saksi setiap detik perjuangannya.
Ketika rumah yang dulu hangat menjadi sunyi, di situlah ia mulai belajar menyembunyikan luka di balik rutinitas. Ia tetap bekerja, tetap tertawa di depan rekan-rekannya, namun malam-malamnya sering kali terasa sangat panjang dan sunyi. Bukan karena ia ingin kembali ke masa lalu, tapi karena ia belum selesai berdamai dengan dirinya sendiri.
Dunia sering kali tidak adil pada mereka. Sedikit saja ia melakukan kesalahan, ia dicap gagal. Sedikit saja ia tersenyum atau mulai bersosialisasi, ia dituduh cepat lupa atau terlalu mudah move on.
Padahal, ia hanya sedang berusaha bertahan. Ia menahan lelahnya dalam diam bukan karena tidak ingin didengar, tapi karena sudah terlalu sering merasa tidak dimengerti. Ia tidak butuh diselamatkan atau dikasihani, ia hanya butuh ditemani tanpa dipaksa untuk melupakan apa yang pernah terjadi.
Luka itu akan terasa jauh lebih dalam jika ada sosok anak di antaranya. Di depan sang anak, ia harus berdiri tegak bagaikan karang yang tak bisa hancur. Namun, tahukah kita apa yang terjadi saat anak itu tertidur?
Hatinya sering kali runtuh. Ia menatap wajah kecil itu dengan rasa bersalah yang tak pernah benar-benar pergi. Dalam diam, ia bertanya-tanya.
"Apakah aku ayah yang cukup baik? Apakah anakku bisa bahagia hanya bersamaku?" Pertanyaan itu tak pernah terucap, namun selalu ada di setiap helaan napasnya.
Jika suatu hari seorang duda memilih untuk mencintai lagi, percayalah, itu bukan sekadar pelarian dari rasa sepi. Itu adalah keputusan besar yang lahir dari keberanian yang luar biasa. Ia sudah tahu betapa mahalnya harga sebuah kegagalan. Ia memilih mencintai dengan lebih hati-hati, lebih dewasa, dan dengan cara yang lebih bijaksana karena ia telah belajar dari luka.
Sebagai wanita, kita seharusnya tidak melihat mereka sebagai pria yang gagal. Lihatlah mereka sebagai pejuang. Seseorang yang pernah jatuh, pernah hancur, namun tetap memilih untuk bertanggung jawab meskipun hidupnya tidak lagi utuh.
Karena pada akhirnya, bertahan di tengah reruntuhan bukanlah sebuah kelemahan. Itu adalah sebuah keberanian.
Padang, 27 Februari 2026
By: GuA
