-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Selepas Badai Besar, Gerimis Tak Lagi Menakutkan

04 Februari 2026 | 04 Februari WIB Last Updated 2026-02-03T20:43:16Z

Ada sebuah fase dalam hidup di mana hiruk-pikuk dunia luar mulai terdengar seperti suara latar yang memudar. Saya telah sampai di sana. Sebuah titik di mana saya memutuskan bahwa selama seseorang bukan merupakan saudara sedarah sekandung, maka ketiadaan tegur sapa di antara kita tidak akan pernah menjadi beban di pundak saya. Selamanya, itu bukan masalah.


Dunia mungkin mengira saya menutup diri, namun sebenarnya saya hanya sedang merapikan prioritas. Mengapa saya begitu tegar dalam kesunyian ini? Jawabannya sederhana. Kehilangan terbesar saya sudah terlewati.


Saya pernah berdiri di pusat badai yang menghancurkan seluruh peta hidup saya. Saya pernah merasakan duka yang begitu pekat hingga oksigen terasa mahal. Setelah Anda selamat dari terjangan ombak setinggi langit, apakah Anda akan gemetar hanya karena terkena percikan air di pinggir pantai? Tentu tidak. Kehilangan-kehilangan kecil setelahnya hanyalah statistik yang tidak berarti.


Bagi saya, orang-orang yang hanya datang membawa drama, kerumitan, atau keangkuhan, tak ubahnya seperti butiran debu yang merusak mata. Mereka kecil, tak terlihat jika kita jauh, namun terasa perih jika dibiarkan masuk terlalu dekat.


Menjaga jarak bukan berarti saya kalah, itu adalah cara saya memastikan pandangan saya tetap jernih. Saya tidak lagi memiliki energi untuk meminum "jamu pahit" dari relasi yang dipaksakan. Jika tidak ada ikatan darah yang mengikat kita dalam satu akar, maka tidak ada kewajiban bagi saya untuk terus berbasa-basi demi menjaga perasaan yang sebenarnya tidak pernah ada.


Kini, hidup saya adalah sebuah benteng yang pintunya hanya terbuka untuk mereka yang memiliki DNA yang sama. Di luar sana, biarlah angin membawa pergi siapa pun yang ingin pergi. Biarlah keheningan menjadi jembatan antara saya dan mereka yang tak lagi sejalan.


Saya tidak takut kehilangan, karena saya sudah pernah kehilangan segalanya. Dan dalam kekosongan itu, saya menemukan bahwa kedamaian paling murni justru hadir saat kita berani berkata. "Cukup sampai di sini."


Sebab setelah badai besar itu berlalu, gerimis sekecil apa pun tak akan pernah lagi sanggup membuat saya kedinginan.


Padang, 3 Februari 2025

Oleh: Moudy

×
Berita Terbaru Update