Ada sebuah ruang hampa yang tercipta ketika dua orang yang pernah searah tiba-tiba harus berhenti tanpa aba-aba. Bukan karena kehabisan kata-kata, melainkan karena waktu telah menarik garis pembatas sebelum bibir sempat mengucap perpisahan. Pesan ini bukan sekadar barisan kalimat, ia adalah sebuah surat terbuka bagi hati yang dipaksa dewasa oleh keadaan.
Kita seringkali terjebak dalam angan tentang "empat mata". Sebuah ruang di mana mata bertemu mata, di mana kejujuran mengalir tanpa sekat. Namun, realita seringkali lebih kejam. Kadang, hidup hanya menyisakan kita sebuah "seandainya".
Andai waktu berpihak sedikit lebih lama, barangkali hanya ada dua beban yang ingin dilepaskan, rasa syukur dan permohonan ampun. Bukan untuk memperbaiki yang telah patah, namun untuk memastikan bahwa yang tertinggal bukanlah luka yang bernanah.
Meminta maaf bukan berarti kita sepenuhnya bersalah, namun sebuah pengakuan bahwa kehadiran kita terkadang menjadi beban yang tak sanggup dipikul orang lain. Ada kepedihan yang tulus dalam kalimat. “Maaf karena kehadiranku mungkin menjadi luka yang tak kau minta.”
Ini adalah bentuk kerendahan hati yang paling murni, menyadari bahwa meski cinta pernah ada, ia juga bisa menjadi duri yang tak sengaja menusuk. Mengakui bahwa kita pernah menjadi beban bagi perasaan seseorang adalah langkah pertama menuju kedamaian diri.
Setiap orang yang masuk ke dalam hidup kita adalah seorang guru, entah mereka membawa tawa atau air mata. Dalam narasi ini, perpisahan tidak lagi dilihat sebagai kegagalan, melainkan sebagai pelajaran berharga.
• Dalam Langkah: Kita belajar cara berjalan bersama.
• Dalam Air Mata: Kita belajar cara membasuh luka sendiri.
Pernah menjadi "orang paling beruntung" adalah sebuah anugerah yang tak boleh dihapus oleh pahitnya akhir cerita. Rasa syukur tetap bersemi, meski pohonnya telah tumbang.
Akhirnya, kita dipaksa untuk berdamai dengan "berpisah dalam diam". Sebuah perpisahan yang paling sunyi, di mana tidak ada pintu yang dibanting, tidak ada suara yang meninggi, hanya ada dua orang yang perlahan menghilang di balik kabut kenangan.
Namun, meski kata-kata ini tak sempat mendarat di telinganya, biarlah ia melangit sebagai doa. Karena terkadang, cara terbaik untuk mengasihi seseorang yang telah pergi adalah dengan membiarkan "terima kasih" dan "maaf" kita menjadi napas yang menenangkan jiwa kita sendiri.
Padang, 27 Februari 2026
By: Andarizal
