-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tiga Cermin Kesetiaan, Mencari Sahabat di Balik Topeng Dunia

06 Februari 2026 | 06 Februari WIB Last Updated 2026-02-05T23:05:06Z

Dalam riuh rendahnya kehidupan, kita seringkali dikelilingi oleh wajah-wajah yang tersenyum. Namun, Ali bin Abi Thalib, sang gerbang ilmu mengingatkan kita dengan sebuah kebenaran yang sunyi namun tajam, bahwa persahabatan bukanlah tentang siapa yang duduk di sampingmu saat perjamuan, melainkan siapa yang berdiri tegak saat duniamu runtuh.


Bagi beliau, persahabatan sejati adalah sebuah bangunan yang hanya bisa terlihat kokoh setelah dihantam badai ujian. Ia membaginya ke dalam tiga babak pembuktian yang sakral.


1. Dunia seringkali penuh dengan "teman musim semi" mereka yang hadir saat bunga-bunga keberhasilan mekar dan matahari keberuntungan bersinar terang. Namun, sahabat sejati adalah sosok yang datang membawa hangat saat musim dingin kebutuhan menerjang.


Ketika tanganmu hampa dan suaramu parau meminta tolong, ia tidak melihatmu sebagai beban, melainkan sebagai bagian dari dirinya yang sedang terluka. Di titik inilah, persahabatan melepaskan jubah transaksionalnya dan berubah menjadi pengorbanan yang tulus.


II. Ujian kedua terletak pada keheningan saat kita tidak ada. Betapa mudahnya seseorang bersikap manis di hadapan kita, namun betapa sulitnya menemukan lidah yang tetap menjaga kehormatan kita saat kita tak mendengar.


Sahabat sejati adalah ksatria bagi nama baikmu. Di saat lidah-lidah tajam mulai mengiris martabatmu di belakang punggung, ia hadir sebagai tameng. Ia tidak membiarkan fitnah menjamahmu, ia menutup aibmu seolah itu adalah aibnya sendiri. Integritas inilah yang membedakan antara penjilat yang manis dan saudara yang setia.


III. Mungkin inilah puncak dari segala kasih sayang, setelah kematian. Ketika tubuh telah bersatu dengan tanah dan tak ada lagi manfaat duniawi yang bisa kita berikan, di sanalah ketulusan diuji secara mutlak.


Sahabat sejati tidak membiarkan namamu terkikis waktu. Ia terus menghidupkanmu melalui doa-doa di sujud terakhirnya. Ia menjaga keluargamu dan menunaikan janji-janjimu yang belum usai. Ini adalah bentuk cinta yang melampaui dimensi materi sebuah ikatan yang tidak putus meski raga telah terpisah jauh.


Pesan Ali bin Abi Thalib ini bukanlah sekadar timbangan untuk mengukur kesetiaan orang lain kepada kita. Ia adalah cermin besar bagi jiwa kita sendiri. Sebelum kita bertanya, "Di mana sahabat sejati itu?", tanyakanlah pada batin yang paling dalam. "Sudahkah aku menjadi pelabuhan bagi mereka yang badai, benteng bagi mereka yang difitnah, dan pendoa bagi mereka yang telah tiada?"


Sebab pada akhirnya, sahabat sejati adalah dua jiwa yang berjalan beriringan menuju kebaikan, meski maut mencoba memisahkan langkah mereka.


Padang, 6 Februari 2026

By: Moudy

×
Berita Terbaru Update