-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Batas Suci, Ketika Harga Diriku Lebih Tinggi dari Rinduku

07 Maret 2026 | 07 Maret WIB Last Updated 2026-03-07T15:10:49Z


Ada sebuah titik lelah yang tak lagi bisa didefinisikan dengan air mata. Ia datang dalam bentuk keheningan yang dingin, sebuah kesadaran yang muncul saat kita menatap pantulan diri di cermin dan bertanya. "Sejak kapan aku menjadi peminta-minta di hati yang bahkan tidak sudi membukakan pintu?"


Hari ini, aku menarik garis itu. Sebuah Batas Suci.


Dulu, memeriksa ponsel adalah napas pertama di pagi hari. Memastikan namamu ada di sana, atau sekadar melihat label "Online" di bawah profilmu, adalah asupan oksigen yang semu. Kita sering membohongi diri sendiri, menganggap bahwa menunggu adalah bentuk kesetiaan, padahal sebenarnya kita sedang membiarkan diri kita pelan-pelan terkikis oleh ketidakpastian.


Namun, pengabaian adalah guru yang kejam sekaligus jujur. Semakin sering pesanku dibiarkan menguap tanpa jawaban, semakin aku menyadari bahwa aku sedang memperjuangkan seseorang yang bahkan tidak merasa kehilangan saat aku tidak ada. Di situlah harga diriku mulai berbisik, lalu perlahan berteriak.


Rindu itu masih ada, ia tidak hilang seperti sihir. Rindu itu tetap milikmu, menetap di sudut hati yang paling sunyi. Tapi bedanya, rindu itu kini tak lagi memiliki kendali atas jemariku.


Aku belajar bahwa menyayangi seseorang tidak harus berarti membiarkan diriku diinjak oleh ketidakpedulian. Menghargai dirimu sendiri berarti memiliki keberanian untuk berkata. "Aku merindukanmu, tapi aku lebih mencintai kedamaian jiwaku." Logika kini menjadi benteng di depan gerbang emosi. Setiap kali keinginan untuk menghubungimu muncul, aku mengingat kembali rasa sesak saat diabaikan, dan seketika itu juga, benteng "Batas Suci" ini menguat.


Adaptasi adalah proses yang sunyi. Semakin kamu menjauh, semakin aku belajar menata ulang hidupku tanpa ketergantungan pada sapaanmu. Aku mulai menemukan kembali warna-warna yang sempat pudar karena aku terlalu fokus menunggumu memberi warna.


Aku tidak sedang membalas dendam dengan diamku. Aku hanya sedang pulang. Pulang ke tempat di mana aku dihargai, pulang ke dalam pelukan diriku sendiri yang selama ini terbengkalai karena sibuk menghargaimu.


Berhenti mengemis waktu bukan berarti kalah dalam permainan kasih sayang. Sebaliknya, ini adalah kemenangan tertinggi. Kemenangan atas ego yang ingin diakui, dan kemenangan atas hati yang sempat kehilangan arah.


Sikapmu yang dingin telah memberiku kehangatan yang tak terduga, kehangatan harga diri. Terima kasih telah mengajarkanku cara hidup tanpamu. Kini, di balik batas suci ini, aku berdiri tegak. Rindu itu mungkin masih bergetar sesekali, tapi ia tak akan pernah lagi melampaui tingginya kehormatanku.

​ 

"Rindu mungkin masih menetap, tapi martabatku telah menemukan jalan pulang. Kini, aku lebih memilih kehilanganmu daripada harus kehilangan diriku sendiri."

 

Padang, 7 Maret 2026

By: Andarizal


×
Berita Terbaru Update