Di sebuah dunia yang terobsesi pada polesan dan kepalsuan, banyak hati yang tersesat dalam keletihan. Mereka berlari mengejar bayang-bayang sosok yang dianggap "sempurna", sosok tanpa cacat, tanpa amarah, dan tanpa kekurangan. Namun, semakin jauh mereka berlari, semakin hampa ruang di dada mereka.
Seringkali, kita lupa bahwa rembulan pun memiliki kawah, dan emas murni pun lahir dari tempaan api yang menyakitkan.
Mencari pasangan yang sempurna adalah sebuah perjalanan menuju jalan buntu. Sebab, bagaimana mungkin kita menuntut kesempurnaan dari orang lain, sementara di dalam diri kita sendiri masih tersimpan gudang-gudang kegagalan dan ego yang kerap meledak?
Manusia tidak diciptakan untuk menjadi dewa. Kita adalah tenunan dari dua sisi yang saling bertolak belakang.
Ada saat di mana kita menjadi cahaya, memberikan hangat dan arah. Ada saat di mana kita menjadi bayang, rapuh dan butuh pelukan.
Pernikahan bukanlah perayaan atas dua orang yang sudah selesai dengan dirinya. Pernikahan adalah sebuah bengkel suci di mana dua jiwa yang penuh retakan memutuskan untuk saling memperbaiki, bukan saling menghakimi.
"Aku menemukanmu bukan saat kau tampil tanpa cela, melainkan saat aku melihat retakanmu dan memilih untuk tetap di sana. Di sela-sela retakan itulah, aku melihat ketulusanmu yang paling murni."
Saat hati mulai kehilangan rasa syukur, segalanya akan terasa kurang. Namun, saat hati mulai belajar menerima, retakan yang tadinya dianggap merusak pemandangan, justru menjadi jalan bagi tumbuhnya bunga-bunga pengertian.
Berhentilah menjadi pengembara yang mencari fatamorgana "sempurna". Kembalilah pulang ke dalam dirimu sendiri. Perbaiki hatimu, teduhkan akhlakmu, dan rendahkan egomu.
Sebab pada akhirnya, kebahagiaan tidak datang dari menemukan seseorang yang tidak memiliki masalah, melainkan dari membangun sesuatu yang indah bersama seseorang yang bersedia berjuang meski ia pun tak sempurna.
Perihal Genap yang Tak Sempurna
Di pelupuk mata yang lelah mencari,
Kita sering mendamba sosok tanpa duri.
Meminta mawar yang mekar abadi,
Tanpa mau menyentuh tanah yang sunyi.
Namun cinta bukan tentang pualam yang licin,
Bukan pula tentang doa yang selalu dikabulkan angin.
Ia adalah dua jiwa yang penuh retak dan celah,
Yang memilih bersandar saat dunia terasa lelah.
Jangan cari kesempurnaan di ujung cakrawala,
Sebab ia hanyalah fatamorgana yang gila.
Cukup temukan hati yang mau belajar bersyukur,
Tempat ego yang tinggi perlahan tersungkur.
Sebab dalam retakan itulah cahaya masuk,
Menyembuhkan luka yang tadinya menusuk.
Menjadikan kurangmu dan kurangku sebuah harmoni,
Sempurna dalam cara yang paling manusiawi.
Padang 7 Maret 2026
By: Andarizal
