PADANG - 7 MARET 2026 - Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) V Padang, Naryo Widodo, baru-bari ini mendampingi Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo dalam prosesi groundbreaking pembangunan Sabo Dam di kawasan Gunung Marapi, Sumatera Barat. Proyek ini menjadi garda terdepan dalam melindungi masyarakat dari ancaman banjir lahar dingin yang sempat melanda wilayah tersebut pada 2024 dan 2025.
Naryo Widodo menjelaskan bahwa pembangunan Tahap I ini mencakup 8 unit Sabo Dam yang tersebar di titik-titik krusial aliran sungai yang berhulu di Gunung Marapi. Secara rinci, BWSS V Padang membagi pengerjaan ini ke dalam dua wilayah administrasi:
• Kabupaten Tanah Datar: Dibangun 5 unit Sabo Dam (3 di Batang Malana, 2 di Batang Anai) serta 1 paket Series River Training Works di Sungai Batang Pagu Pagu.
• Kabupaten Agam: Dibangun 3 unit Sabo Dam yang difokuskan pada aliran Batang Katik.
Dalam laporannya, Naryo menekankan bahwa infrastruktur ini dirancang dengan total kapasitas tampung sedimen mencapai lebih dari 440.000 m³. Target utamanya adalah meredam energi aliran debris dan menahan material vulkanik agar tidak merusak area di hilir.
"Pembangunan ini adalah langkah konkret untuk melindungi sekitar 37.000 jiwa penduduk, mengamankan 9.565 hektar lahan pertanian produktif, serta menjaga konektivitas jalan nasional sepanjang 2,1 km yang menjadi urat nadi logistik di Sumatera Barat," ujar pihak BWSS V Padang.
Proyek senilai Rp249 Miliar ini dilaksanakan melalui skema Multi Years Contract (MYC) yang direncanakan rampung pada Desember 2027. Naryo Widodo menegaskan bahwa BWSS V Padang berkomitmen menerapkan konsep Build Back Better, yakni membangun infrastruktur yang lebih tangguh dan aman dibandingkan kondisi sebelumnya.
Selain aspek teknis, Naryo juga memastikan bahwa proyek ini memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga sekitar. "Kami menginstruksikan penggunaan material yang berizin resmi dan memprioritaskan penyerapan tenaga kerja lokal sesuai kualifikasi. Ini adalah bentuk sinergi antara pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan ekonomi masyarakat terdampak," tambahnya.
Dengan dimulainya pembangunan ini, diharapkan risiko bencana hidrometeorologi di kaki Gunung Marapi dapat diminimalisir secara signifikan, sekaligus menjamin keberlanjutan ruang hidup yang lebih aman bagi masyarakat Sumatera Barat. (And)
