-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Yatim Piatu Sosial, Ketika Orang Tua 'Wafat' dalam Ingatan Anak

27 Maret 2026 | 27 Maret WIB Last Updated 2026-03-27T05:09:56Z


Di tengah deru digitalisasi dan kepungan ambisi material, kita sedang menyaksikan lahirnya sebuah anomali sosiologis yang memprihatinkan. Kita tidak sedang membicarakan anak-anak yang kehilangan orang tuanya secara biologis, melainkan sebuah fenomena yang jauh lebih getir, Yatim Piatu Sosial. Ini adalah kondisi di mana orang tua masih ada secara fisik, namun telah "wafat" secara emosional dan fungsional dalam ruang kesadaran anak-anaknya.


Dunia hari ini bergerak dalam ritme yang sangat transaksional. Persahabatan, jaringan profesional, bahkan hubungan sosial sering kali diukur dari value yang bisa dipertukarkan. Dalam hukum pasar yang dingin ini, orang tua muncul sebagai satu-satunya entitas yang berdiri di luar logika laba-rugi.


Seperti yang tergambar dalam pesan moral para Ulama, Ustadz dan Ustazah, ayah dan ibu adalah satu-satunya sosok yang merayakan kekalahan mereka sendiri demi menjadi pijakan bagi kemenangan sang anak. Mereka adalah "investor" tanpa bunga yang modal utamanya bukanlah uang, melainkan napas dan doa. Namun, ironisnya, saat sang anak berhasil mendaki puncak kesuksesan, mereka sering kali dianggap sebagai "masa lalu" yang tidak lagi relevan dengan gaya hidup modern.


Dalam perspektif organisasi dan kepemimpinan, kita sering menekankan pentingnya "Superteam" di atas "Superman". Jika kita tarik ke dalam ranah domestik, keluarga adalah unit superteam pertama dan utama bagi setiap manusia. Keberhasilan seorang profesional, jurnalis, maupun pemimpin, bukanlah kerja tunggal yang heroik. Ia adalah hasil kolaborasi antara keringat ayah yang tak terlihat, ketangguhan ibu yang sunyi, dan ketekunan sang anak.


Menjadi "Yatim Piatu Sosial" berarti memutus rantai kolaborasi tersebut secara sepihak. Saat seorang anak merasa sukses karena kekuatannya sendiri merasa menjadi "Superman", ia sebenarnya sedang melakukan pengkhianatan terhadap sistem pendukung (support system) yang telah membentuknya. Kesuksesan tanpa pengakuan terhadap peran orang tua adalah kesuksesan yang rapuh dan kehilangan otoritas moral.


Sangat menyedihkan melihat fenomena di mana seseorang begitu santun kepada atasan, begitu ramah kepada kolega, namun menjadi sangat dingin dan "asing" saat berbicara dengan orang tua. Loyalitas lebih sering diberikan kepada orang-orang baru demi mengejar validasi sosial, sementara mereka yang telah ada sejak kita belum bisa mengeja kata justru mendapatkan sisa-sisa waktu dan sisa-sisa kesabaran.


Kesibukan sering kali dijadikan tameng untuk memaklumi pengabaian. Kita merasa telah cukup berbakti hanya dengan mengirimkan materi, padahal yang mereka butuhkan adalah kehadiran emosional, pengakuan bahwa mereka masih "hidup" dan berarti di tengah kesuksesan kita.


Tulisan ini adalah sebuah ajakan untuk melakukan dekonstruksi terhadap makna keberhasilan. Kemajuan peradaban tidak boleh dibayar dengan murahnya harga sebuah bakti. Menjadi modern bukan berarti harus tercerabut dari akar. Menjadi intelektual bukan berarti menjadi angkuh terhadap mereka yang mungkin tidak mengerti teknologi, namun sangat mengerti cara mencintai tanpa syarat.


Sebelum panggung sandiwara dunia ini berakhir, mari kita hidupkan kembali mereka dalam ingatan dan keseharian kita. Jangan biarkan mereka menjadi "yatim piatu" di masa senjanya hanya karena kita terlalu sibuk menjadi "orang besar". Sebab pada akhirnya, tempat paling aman untuk berlabuh bukanlah pada tepuk tangan publik, melainkan pada doa tulus yang dipanjatkan dari tangan-tangan yang mulai renta itu.


​   Ingat. "Kesuksesan sejati bukan diukur dari seberapa tinggi Anda mendaki, melainkan dari seberapa rendah Anda merunduk di hadapan mereka yang telah menjadi tangga bagi pendakian Anda. Karena dalam Superteam kehidupan, restu orang tua adalah kapten yang tak terlihat."


Lubuk Linggau, 27 Maret 2026

By: Andarizal

×
Berita Terbaru Update