Dunia adalah sebuah panggung yang diselimuti kabut tipis, di mana garis antara kenyataan dan mimpi seringkali memudar. Kita berdiri di sana, di sebuah titik yang tak kasat mata, sebuah ambang yang memisahkan detak jantung hari ini dengan sunyi yang abadi.
Ada hal-hal yang hadir namun tak terjamah, seperti aroma tanah setelah hujan atau gema tawa yang telah lama berlalu. Mereka ada dalam ingatan, namun tiada dalam rupa. Kita seringkali terjebak dalam upaya mengejar yang "ada", hingga lupa bahwa keindahan yang paling murni seringkali bersembunyi dalam ketiadaan yang penuh makna.
"Keberadaan bukan sekadar tentang apa yang bisa disentuh jemari, melainkan tentang apa yang tetap tinggal di relung jiwa saat mata terpejam."
Dalam setiap perpisahan, kita menyadari betapa tipisnya tirai yang memisahkan dua alam ini. Sesuatu yang tadi begitu nyata, dalam sekejap bisa menjadi tiada, menyisakan ruang hampa yang hanya bisa diisi oleh rindu. Namun, bukankah justru karena sifatnya yang sementara, setiap pertemuan menjadi begitu berharga?
Kita membangun menara-menara ego, mengumpulkan materi seolah-olah ia akan kekal. Padahal, kita hanyalah debu kosmik yang menari sejenak di bawah cahaya bintang, sebelum akhirnya kembali ke dalam pelukan kesunyian yang luas.
Berada di ambang batas mengajarkan kita tentang kerendahan hati. Kita belajar bahwa:
• Kehadiran adalah sebuah anugerah yang harus dirayakan dengan penuh syukur.
• Kehilangan adalah cara semesta mengingatkan kita untuk melepaskan keterikatan.
• Keabadian tidak ditemukan dalam benda, melainkan dalam jejak kebaikan yang kita tinggalkan di hati orang lain.
Jangan takut pada ambang batas itu. Di sanalah tempat kreativitas lahir, di mana doa-doa dilambungkan, dan di mana kasih menemukan bentuknya yang paling tulus. Hidup bukanlah tentang memilih untuk menjadi "ada" atau "tiada", melainkan tentang bagaimana kita menari dengan anggun di antara keduanya.
Biarlah setiap langkah kita menjadi puisi, dan setiap napas kita menjadi melodi yang mengalun lembut, mengisi ruang-ruang kosong di antara yang nyata dan yang maya. Sebab pada akhirnya, kita semua akan kembali menjadi bagian dari hening yang megah.
Padang, 31 Maret 2026
By: Andarizal
