Dunia pers kita hari ini tengah mengalami pergeseran kiblat yang mencemaskan. Jika dulu jurnalisme adalah panggung bagi kebenaran, kini ia perlahan berubah menjadi panggung bagi si pembawa berita. Fenomena ini memunculkan sebuah paradoks, kita melihat jurnalis yang jauh lebih "genit" daripada berita yang mereka sampaikan.
Genit di sini bukan soal penampilan fisik, melainkan genit secara intelektual dan moral. Yakni, kondisi di mana seorang jurnalis lebih sibuk mencitrakan dirinya sebagai pahlawan, pengamat paling tajam, atau kritikus paling vokal, namun lupa pada esensi dasar profesinya, menjadi mata dan telinga bagi publik.
Di era media sosial, sekat antara jurnalisme profesional dan pengaruh pribadi (influence) kian menipis. Ada sebagian jurnalis yang terjebak pada jumlah likes, shares, dan komentar. Akibatnya, berita seringkali hanya dijadikan "kendaraan" untuk memoles reputasi pribadi.
Ada kecenderungan untuk membuat sensasi di atas berita orang lain. Alih-alih melakukan verifikasi mendalam, sebagian jurnalis justru lebih asyik membangun narasi "seakan kitalah yang paling hebat". Mereka seolah lupa pada pepatah lama, “Diatas langit masih ada langit.” Keangkuhan ini adalah racun yang secara perlahan membunuh kepercayaan masyarakat terhadap institusi pers.
Tugas utama jurnalis adalah melihat, mendengar, dan menyampaikan. Kita adalah saksi sejarah, bukan bintang tamunya. Ketika seorang jurnalis mulai merasa dirinya lebih penting daripada narasumber atau peristiwa yang dilaporkan, ia telah gagal dalam menjalankan kode etik.
Publik tidak butuh jurnalis yang "sok hebat". Publik butuh jurnalis yang jujur. Biarkan publik yang menilai kualitas sebuah karya. Kehebatan tidak perlu diteriakkan lewat narasi yang menyudutkan rekan sejawat atau membesar-besarkan peran diri sendiri. Sebab, integritas tidak butuh riasan yang berlebihan, ia akan memancar dengan sendirinya melalui akurasi dan keberpihakan pada kebenaran.
Kita harus berani mengakui bahwa jurnalisme adalah profesi yang penuh keterbatasan. Kita bisa salah, kita bisa keliru, dan kita bukan pemegang tunggal kebenaran. Mengutip prinsip spiritual, kehebatan dan kesempurnaan itu hanya milik Tuhan.
Seorang jurnalis yang rendah hati justru akan memiliki ketajaman yang lebih dalam. Mengapa? Karena ia tidak terhalang oleh debu-debu ego. Ia akan terus belajar, terus mendengar, dan selalu merasa haus akan fakta, bukan haus akan pujian.
Penutup
Berhentilah menjadi "genit". Berhentilah sibuk mencari celah untuk terlihat hebat di atas karya atau berita orang lain. Kembalilah pada khitah, biarkan berita itu berbicara dengan kekuatannya sendiri. Jika kita terus mempertahankan ego di atas etika, maka jangan salahkan publik jika suatu saat mereka berpaling, karena mereka tak lagi melihat berita, melainkan hanya melihat seorang pemain sandiwara yang kebetulan memegang kartu pers.
Langit masih sangat tinggi, dan kita semua masih merangkak di bawahnya. Tetaplah membumi, agar tulisan kita punya arti.
Padang, 6 April 2026
Oleh: Andarizal, Wartawan biasa
