-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Stop Saling Serang, Wartawan Tak Perlu Saling Berita Demi Kepercayaan Publik

06 Mei 2026 | 06 Mei WIB Last Updated 2026-05-06T02:43:05Z


Di tengah derap langkah zaman dan riuhnya arus informasi, profesi jurnalis selalu berdiri di garda terdepan sebagai pembawa kebenaran serta penjaga akal sehat publik. Namun, akhir-akhir ini sebuah ironi terjadi di ruang redaksi dan media sosial kita, ketika pena yang harusnya menjadi alat kontrol sosial justru dihunuskan untuk menyerang sesama rekan seprofesi. Sungguh sebuah pemandangan yang menyayat hati dan mencederai marwah jurnalisme itu sendiri.


Menulis berita tentang keburukan atau menjatuhkan rekan seprofesi bukanlah sebuah bentuk karya jurnalistik yang patut dibanggakan. Ini adalah cermin retak yang memantulkan ego, bukan kebenaran objektif. Sebagai sesama insan pers yang berada dalam ikatan senasib sepenanggungan, sudah sepatutnya kita menumbuhkan budaya "mulut dikunci, hati dibuka" sebelum melangkah.


Mari kita berkaca. Tidak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini. Kesempurnaan mutlak hanyalah milik Sang Pencipta, sementara kita, para perajin kata, tak lebih dari manusia biasa yang tak luput dari khilaf dan cela. Sebelum menunjuk kesalahan kolega, sudahkah kita memastikan bahwa pena kita sendiri telah sepenuhnya bersih dari noda subjektivitas?


Profesi ini menghadapi tantangan yang tidak ringan di lapangan. Mulai dari ancaman kriminalisasi, tantangan kesejahteraan, hingga dinamika digitalisasi yang terus menguji ketahanan media. Di tengah badai tersebut, perpecahan internal hanya akan merugikan kita semua.


"Tidak ada kusut yang tak selesai jika dihadapi dengan dada lapang. Jangan biarkan ego sesaat menghancurkan fondasi solidaritas yang telah dibangun dengan keringat dan air mata.”


Ketika wartawan saling menyerang menggunakan karya jurnalistik sebagai peluru, masyarakat hanya akan melihat institusi pers sebagai arena pertikaian. Kepercayaan publik yang telah dipupuk dengan susah payah bisa runtuh seketika. Oleh karena itu, sudah saatnya kita menghentikan kebiasaan mencari-cari kesalahan rekan seprofesi demi sensasi atau persaingan yang tidak sehat.


Sebagai insan pers yang terikat oleh Kode Etik Jurnalistik, penyelesaian setiap kesalahpahaman atau dugaan pelanggaran memiliki mekanisme yang bermartabat. Ruang seperti hak jawab, hak koreksi, hingga mediasi melalui organisasi profesi adalah jalur-jalur elegan yang harus dikedepankan.


Jika ada pelanggaran hukum atau etik yang serius, biarkan mekanisme hukum dan Dewan Pers yang berbicara secara objektif dan proporsional. Tidak perlu ada penghakiman dini di ruang publik yang justru merendahkan martabat kita sendiri.


Energi dan ketajaman pena kita jauh lebih berharga jika diarahkan pada hal-hal yang membangun masyarakat. Mari kita arahkan fokus untuk mengawal transparansi kebijakan publik, menyuarakan aspirasi masyarakat, serta mengawasi roda pemerintahan demi kesejahteraan bersama.


Dengan bersatu, kita pasti kuat. Mari berbenah, merajut kembali solidaritas, dan menjaga marwah profesi ini agar tetap terhormat di mata rakyat. Bersama, kita jaga integritas pers yang mencerahkan dan menyatukan.


Penutup: 

Sahabat seperjuangan, rekan-rekan insan pers di mana pun Anda berada,


Mari kita sejenak menarik napas dan merenungkan kembali niat awal kita saat pertama kali memegang pena. Kita hadir di dunia jurnalistik bukan untuk menjadi algojo bagi kawan sendiri, melainkan untuk menjadi suluh yang menerangi kegelapan dan menyuarakan kebenaran. Setiap goresan kata yang kita torehkan memikul tanggung jawab moral yang besar tidak hanya kepada publik, tetapi juga kepada nurani kita sendiri dan Sang Pencipta.


Di penghujung hari, saat lelah merayap dan berita telah tersiar, yang tersisa dan paling berharga adalah rasa persaudaraan yang mengikat kita. Jangan biarkan sekat-sekat ego, persaingan sesaat, atau perbedaan pandangan merobek tenunan kebersamaan yang telah kita rawat bersama.


Mari kita ciptakan kerukunan. Sebuah harmoni sejati di dalam ruang redaksi maupun di lapangan. Ketika kita saling merangkul alih-alih saling memukul, profesi ini akan kembali bersinar dengan kemuliaan yang sesungguhnya. Biarkan pena kita menari untuk kebaikan, untuk persatuan, dan untuk kemanusiaan.


“Sebab pada akhirnya, marwah jurnalisme kita tidak ditentukan oleh seberapa tajam kita menyerang, melainkan seberapa bijak kita merangkul dan menyatukan.”


Mari bersama-sama kita melangkah ke depan dengan kepala tegak dan hati yang lapang. Bersatu kita teguh, bersama kita jaga marwah dan kehormatan profesi kita.


Padang, 6 Mei 2026

Oleh: Andarizal

×
Berita Terbaru Update