Bagi masyarakat Sumatra Barat, nama "Prof. Dr. H. Fauzi Bahar, M.Si., Dt. Nan Sati" identik dengan kepemimpinan, adat, dan penguatan nilai-nilai religius. Namun, perjalanan membawa mantan Walikota Padang dua periode pada (15/5) ini jauh meninggalkan hamparan Ranah Minang, melintasi ribuan kilometer menuju sebuah titik legendaris di barat jauh Tiongkok, "Kashgar".
Kashgar bukan sekadar kota. Ia adalah sebuah oasis kuno di Wilayah Otonom Xinjiang yang bertindak sebagai jantung dari rute perdagangan paling termasyhur di dunia, Jalur Sutra. Berada di ujung barat daya China dan berbatasan langsung dengan Kirgistan serta Tajikistan, kota ini berdiri 3.400 kilometer di barat Beijing. Jarak geografis ini turut memisahkan Kashgar dari atmosfer modern Tiongkok daratan, membawanya jauh lebih dekat secara emosional dan kultural ke Asia Tengah.
Begitu menginjakkan kaki di Kashgar, lanskap Tiongkok yang biasa kita bayangkan langsung luruh. Berganti dengan arsitektur tanah liat yang eksotis, aroma roti "nang" hangat yang baru diangkat dari tungku tandoor, dan sayup-sayup musik petik tradisional. Kota kuno ini dihuni oleh mayoritas etnis Uyghur, menyumbang sekitar 85 hingga 90 persen dari populasi lokal.
Bagi seorang tokoh adat Minangkabau yang memegang prinsip "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah", atmosfer Kashgar menghadirkan getaran spiritual yang sangat akrab. Islam telah masuk ke wilayah subur ini sejak abad ke-8, menyusup melalui koridor Transoxiana pada masa keemasan kekhalifahan.
Menyusuri sudut-sudut kota, kita akan disambut oleh deretan masjid-masjid tua yang kokoh berdiri menerjang zaman. Salah satu yang paling agung adalah "Masjid Id Kah". Dibangun pada abad ke-15, bangunan ini bukan sekadar pusat ibadah terbesar di Xinjiang, melainkan simbol visual bagaimana syiar Islam mengakar dan mengalir dalam urat nadi kehidupan masyarakat Uyghur selama berabad-abad.
Perjalanan Fauzi Bahar di bumi Xinjiang tidak berhenti pada labirin sejarah kota kuno. Petualangan sesungguhnya bergerak menanjak merambah Pegunungan Pamir yang megah melalui Jalur Trans-Karakoram. Di sanalah, di atas ketinggian sekitar 3.700 meter di atas permukaan laut, alam menyajikan mahakaryanya yang paling sunyi. "Danau Bulunkul" (yang kerap dikenal oleh pelancong lokal sebagai bagian dari pesona Danau Bashah/Karakul).
Lanskap di sini sungguh dramatis. Udara begitu dingin mencengkeram, berpadu dengan air danau yang jernih dan tenang bagai cermin raksasa. Danau ini memantulkan kemegahan Gunung Muztagh Ata yang puncaknya diselimuti salju abadi.
Bagi mereka yang terbiasa dengan keindahan Danau Singkarak atau Maninjau di Sumatra Barat yang beriklim tropis gurih, berdiri di tepian danau sedingin es di atap dunia ini memberikan kontras alam yang luar biasa. Sebuah momen kontemplasi yang memperlihatkan betapa agungnya ciptaan Sang Khalik di belahan bumi yang lain.
Kunjungan Prof. Fauzi Bahar ke Kashgar adalah sebuah jembatan pemikiran. Di satu sisi, ada seorang pemuka dari Minangkabau, tanah yang menghargai tinggi adat dan agama. Di sisi lain, ada Kashgar, sebuah penyemangat di gurun tak bertepi yang gigih merawat identitas Islam Turkik mereka di tengah arus modernisasi.
Perjalanan ini bukan sekadar pelesiran visual, melainkan sebuah ziarah budaya dan spiritual. Kashgar mengajarkan kita bahwa meski dipisahkan oleh ribuan kilometer, bentangan gurun, dan sekat-sekat geopolitik, tautan sejarah dan persaudaraan spiritual akan selalu menemukan jalannya untuk bertemu.
Ketika matahari perlahan turun di ufuk barat Kashgar, membiaskan warna keemasan di atas kubah-kubah masjid tua dan memantulkan pendar perak di permukaan dingin Danau Ba Shah, ada sebuah rasa takzim yang menyeruak tenang. Berdiri di persimpangan peradaban dunia ini, kita dipaksa menyadari betapa luas dan indahnya bumi yang telah dihamparkan oleh Sang Maha Kuasa.
Dari hijau royo-royo lembah Ranah Minang hingga ke sunyinya gurun dan gunung es di atap Asia Tengah, perbedaan lanskap ini bukanlah sebuah sekat, melainkan ayat-ayat kauniyah yang sengaja dibentangkan untuk dibaca. Sang Pencipta merajut bumi ini dengan keberagaman yang mutlak, menciptakan kontras yang luar biasa antara hawa tropis Sumatra yang hangat dengan angin sedingin es di pegunungan Pamir. Namun, di bawah langit yang sama, esensi penciptaan itu bermuara pada satu titik, sebagai ruang bagi manusia untuk saling mengenal, merenung, dan bersujud.
Bagi Prof. Fauzi Bahar dan siapapun musafir yang melintasi bumi ini, perjalanan ke Kashgar pada akhirnya bukan lagi sekadar perkara berpindah dari satu koordinat geografis ke koordinat lainnya. Ini adalah sebuah madrasah alam. Ketika kaki melangkah sejauh ribuan kilometer, kita tidak sedang mengecilkan dunia, melainkan sedang memperluas ruang di dalam dada untuk mengagumi betapa agungnya skenario Sang Khalik.
Kita pulang tidak hanya membawa cerita tentang eksotisme Jalur Sutra atau ketangguhan sebuah peradaban kuno, tetapi membawa sekeping kesadaran yang lebih dalam, bahwa di setiap sudut bumi yang kita pijak, keindahan-Nya selalu hadir tanpa batas, menanti untuk dijemput oleh jiwa-jiwa yang rindu akan ketenangan. (And)
