PADANG - 13 MEI 2026 - Ketua Umum Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat, H. Fauzi Bahar, M.Si. Datuk Nan Sati, melontarkan kritik tajam terhadap maraknya konten media sosial yang menggunakan bahasa kasar atau "bacaruik". Ia menegaskan bahwa perilaku tersebut telah mencoreng wajah masyarakat Minangkabau di mata dunia, terutama bagi para perantau.
Dalam pernyataan resminya, Fauzi Bahar menyebut bahwa fenomena ini sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan karena mengabaikan nilai kesantunan yang menjadi jati diri orang Minang.
Mantan Walikota Padang dua periode ini menekankan bahwa setiap kata kasar yang diucapkan oleh para kreator konten bukan hanya memalukan diri sendiri, tetapi juga meruntuhkan martabat orang tua yang telah membesarkan mereka.
"Malu kita pada orang tua, malu kita pada para perantau yang selama ini menjaga nama baik Minangkabau. Jangan hanya demi mengejar penonton, kita mengorbankan harga diri dan identitas kita sebagai bangsa yang beradat," ujar Fauzi Bahar dengan nada tegas.
Selain persoalan etika, Fauzi Bahar juga mengingatkan para generasi muda mengenai bahaya jejak digital. Menurutnya, konten-konten negatif tersebut akan tersimpan abadi di internet dan bisa menjadi batu sandungan bagi karier mereka di masa depan.
"Sepuluh atau dua puluh tahun lagi, saat kalian mungkin mencalonkan diri menjadi pemimpin atau pejabat publik, jejak digital ini akan muncul kembali. Jangan sampai masa depan kalian hancur hanya karena kekhilafan saat ini," tambahnya.
LKAAM Sumatera Barat mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama para pembuat konten, untuk kembali ke filosofi "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah". Pihaknya menyatakan akan terus memantau dan memberikan teguran bagi konten-konten yang dianggap melampaui batas kepatutan adat.
Sebagai pengingat bagi kita semua, kiranya petuah lama ini kembali kita renungkan. Jati diri Minangkabau bukan hanya terletak pada megahnya rumah gadang, melainkan pada halusnya budi dan tajamnya lisan dalam menjaga rasa.
Nan kuriek iolah kundi, nan merah iolah sago.
Nan baiak iolah budi, nan indah iolah bahaso.
Bak kato pepatah, lisan nan tajam labiah biso malukoan hati dibandiang mato ladiang nan luko di kulik. Kok ilang rono dek panyakiik, kok ilang adat dek laku nan buruak. Jan sampai hanyo demi sanang nan sapaliangan mato, demi "view" nan sakijok ari, kito jua marwah harago diri.
Ingeklah kamanakan nan den sayangi, paliarolah lidah, jagolah kato. Karano nan dikatoan urang Minang tu iolah "alua jo patuik", duduaknyo di raso jo pareso. Mari kito jago Ranah Minang ko tatap harum jo budi, tatap mulia jo bahaso nan suci, harapnya. (And)
