PADANG - 29 NOVEMBER 2025 - Matahari sore di Padang bersinar cerah, memantul di antara gumpalan awan yang bergerak pelan. Namun, pemandangan di permukaan tanah adalah kontras yang menyakitkan.
Lapangan bola Brandon, yang dikenal sebagai salah satu ruang terbuka publik di Padang, kini telah berubah total. Kawasan itu tidak lagi dipenuhi rumput hijau atau semangat olahraga, melainkan lautan puing dan kayu yang menggunung.
Foto-foto yang diabadikan menunjukkan betapa masifnya dampak banjir yang melanda kota ini baru-baru ini. Ratusan, bahkan ribuan, batang kayu gelondongan, ranting, dan aneka serpihan besar lainnya diangkut oleh kekuatan air bah dan dimuntahkan ke daratan, menumpuk hingga membentuk bentangan yang luas. Lapangan Brandon telah bertransformasi menjadi semacam ‘lapangan kuburan’ puing yang sunyi.
Di tengah pemandangan yang memprihatinkan ini, tampak Mastilizal Aye, Wakil Ketua DPRD Kota Padang, meninjau lokasi. Mengenakan topi dan kacamata hitam, ia berdiri tepat di atas tumpukan debris, menyaksikan langsung seberapa besar beban pembersihan yang kini menghadang.
Posisinya yang tinggi di atas tumpukan kayu memberinya pandangan luas tentang bencana lingkungan yang kini menjadi ‘pekerjaan rumah’ bagi pemerintah kota dan warganya.
"Air bah telah susut, namun pekerjaan rumah menanti," ucap Mastilizal dengan nada yang tidak dapat menyembunyikan keprihatinan mendalam.
Kumpulan kayu ini bukan sekadar sampah, ia adalah simbol dari siklus alam dan tata kelola lingkungan yang terganggu. Kayu-kayu itu berasal dari hulu, terbawa arus deras, dan menimbun di hilir menjadi penanda bahwa bencana alam selalu menyisakan PR besar yang harus diselesaikan setelah air surut.
Mengakhiri peninjauan di lokasi, Wakil Ketua DPRD Kota Padang itu menyampaikan gumamnya, sebuah harapan yang tertanam kuat. "Semoga dilema ini tidak terulang di masa yang akan datang."
Harapan tersebut mengandung makna yang lebih dalam dari sekadar upaya pembersihan. Ia adalah seruan untuk perencanaan mitigasi yang lebih baik, pengelolaan daerah aliran sungai yang lebih bijaksana, dan kesiapan kota Padang dalam menghadapi tantangan hidrologis di masa depan.
Saat matahari mulai beranjak turun, tumpukan kayu di Lapangan Brandon tetap menjadi pemandangan yang membekas, monumen yang mengingatkan warga Padang akan kekuatan alam dan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan, agar tragedi penimbunan debris pasca banjir ini tidak terulang lagi. (And)
