PADANG, SUMATERA BARAT - Pagi hari di Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang, pada hari Sabtu (29/11) seharusnya menjadi waktu pemulihan. Namun, yang tersaji adalah pemandangan suram yang menyisakan trauma mendalam. Hanya berselang lebih dari 24 jam setelah air bah meluluhlantakkan wilayah ini pada Jumat (28/11), kini warga harus berhadapan dengan warisan mengerikan dari bencana, infrastruktur jalan yang terputus dan mengancam nyawa.
Foto-foto yang diabadikan pada pukul 07:11 WIB menunjukkan sungai yang sebelumnya tenang telah berubah menjadi sungai lumpur yang ganas. Arus deras berwarna cokelat pekat masih mengalir kuat, membawa tumpukan batu-batu besar dan batang kayu yang teronggok di tengah aliran. Pemandangan ini seolah menjadi saksi betapa dahsyatnya energi yang dilepaskan alam. Rumah-rumah warga di sepanjang bantaran sungai tampak rentan, sebagian besar telah hanyut dan kehilangan fondasi serta pelindung alaminya.
“Meskipun banjir telah surut, tapi kini masih menyisakan kekhawatiran terhadap para pengguna jalan yang melintas di areal jalan dari Kampung Pinang menuju Lambung Bukit dalam keadaan rusak parah,” demikian laporan dari lokasi.
Kekhawatiran utama terpusat pada jalur vital yang digunakan sehari-hari. Jalan Kelurahan, Lambung Bukit, terlihat hancur. Aspal yang tadinya kokoh kini terkelupas dan tergerus habis oleh sapuan air bah. Bibir jalan yang berhadapan langsung dengan jurang kini hanya menyisakan tanah yang retak-retak, siap runtuh kapan saja.
Yang paling memprihatinkan, dan menjadi sumber kecemasan para tokoh masyarakat, adalah belum adanya tindakan pengamanan di lokasi kerusakan. Infrastruktur jalan yang sudah menjadi 'jalan maut' akibat tergerus air bah tersebut tidak dilengkapi dengan satu pun garis polisi (Police Line) ataupun pembatas sementara yang ada hanya inisiatif masyarakat setempat.
“Kerusakan infrastruktur jalan ini akibat tergerus oleh air bah yang terjadi pada tanggal (28/11), tanpa garis Police Line, dikhawatirkan bisa terjadi kecelakaan,” ujar salah seorang warga.
Waktu menunjukkan pukul 07:29 WIB, lalu lintas kendaraan kecil mulai melintas. Mereka terpaksa bermanuver sangat hati-hati, berpacu dengan risiko tergelincir ke jurang yang terbentuk karena kikisan air. Para tokoh masyarakat mendesak agar Pemerintah Kota Padang segera merespons dengan memasang garis pembatas demi mencegah jatuhnya korban jiwa.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada satu pun alat berat yang terlihat memasuki lokasi. Keterlambatan ini bukan hanya menghambat proses pembersihan puing-puing, tetapi juga menunda langkah antisipasi dini yang sangat dibutuhkan untuk menjamin keselamatan warga dan pengguna jalan di Lambung Bukit.
Kini, Kota Padang tidak hanya menghadapi tugas berat merehabilitasi jembatan dan rumah yang hancur, tetapi juga tantangan mendesak untuk menyelamatkan pengguna jalan dari ancaman bencana sekunder yang ditimbulkan oleh jalanan yang lumpuh dan tak teramankan. (And)
