-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Ketika Langkah Kian Goyah, Siapa yang Menopang Jiwa?

05 Desember 2025 | 05 Desember WIB Last Updated 2025-12-05T11:49:14Z

Seringkali, di persimpangan sunyi antara fajar dan senja, sebuah pertanyaan klasik datang menghantam dinding kesadaran. Mampukah aku terus berdiri?


Ini bukan lagi tentang kaki yang menjejak bumi, melainkan tentang jiwa yang berjuang di medan pertempuran hening. Langkah ini, yang dahulu perkasa dan penuh janji, kini mulai goyah, seolah menginjak pasir hisap keraguan. Setiap tarikan napas terasa memikul beban seribu hari, dan keyakinan kompas setia yang menuntun arah perlahan terkikis, dihabisi oleh gerusan ombak kelelahan yang tak kunjung usai.


Ternyata, perjalanan paling melelahkan bukanlah mendaki gunung tertinggi, melainkan menjaga benteng hati agar tetap tegak dan tak tertembus. Ini bukan perkara mudah. Ia menuntut ketabahan yang sunyi, pengorbanan yang tak terlihat.


Ada begitu banyak luka yang harus disortir dan disimpan rapat dalam laci rahasia. Luka-luka itu bukan untuk dipertontonkan, ia adalah museum pribadi tempat kenangan pahit dibingkai dalam keheningan. Ada pula air mata yang harus ditelan diam-diam, menjadi hujan internal yang membasahi akar kesabaran, memastikan bahwa di luar, wajah tetap memancarkan ketenangan.


Mengapa harus berpura-pura kuat? Karena terkadang, di dunia ini, kekuatan adalah satu-satunya perisai yang tersisa.


Namun, di balik semua kelelahan dan kepalsuan ini, ada seberkas cahaya yang menolak untuk padam cahaya bernama Harapan.


Meskipun terasa berat, meskipun malam terasa panjang dan dingin, ada getaran halus di palung hati yang berbisik. "Badai ini pun akan reda."


Aku ingin percaya. Aku ingin memegang janji bahwa siklus kesakitan akan mencapai puncaknya, dan kemudian mereda. Suatu saat nanti, mungkin esok, lusa, atau setelah melewati ribuan kilometer duka, aku akan menemukan diriku lagi. Aku akan mampu tersenyum, senyuman yang jujur, yang muncul dari kedalaman jiwa yang telah sembuh, bukan sekadar topeng yang dipasang untuk menyenangkan dunia.


Hingga saat itu tiba, aku akan terus berjalan, meski langkah ini hanya sebatas seretan kaki yang berat. Sebab, jiwa yang rapuh hari ini adalah jiwa yang sedang ditempa untuk menjadi baja yang abadi.  


Padang, 5 Desember 2025

By: Andarizal

×
Berita Terbaru Update