PADANG - 3 DESEMBER 2025 - Lumpur kering yang membalut perabot rumah tangga dan jejak air yang masih membekas setinggi pinggang menjadi saksi keganasan Banjir Bandang yang baru saja melanda kawasan Nanggalo, Padang. Namun, di tengah suasana pilu itu, seberkas harapan hadir melalui kepedulian tulus dari kelompok ibu-ibu yang dikenal dengan nama Mande Kanduang Sako Kota Padang.
Pada Senin lalu, di bawah terik matahari yang menyengat, rombongan Mande Kanduang Sako menyusuri lokasi bencana. Mereka datang bukan untuk berkeluh kesah, melainkan untuk menegakkan kembali semangat kekeluargaan di antara anggota mereka yang paling terdampak.
Salah satu titik kunjungan paling emosional adalah rumah Mande Zulbiati di Banda Gadang, Nanggalo. Rumahnya menjadi salah satu yang paling terdampak merasakan luapan air bah.
Dalam narasi singkat yang dibagikan oleh salah seorang anggota dalam grup whatsapp, terdengar ungkapan syukur yang mendalam, "Alhamdulillah sampai juga di rumah mande Zulbiati di Banda Gadang Nanggalo yang berdampak Banjir Bandang."
Momen haru tertangkap kamera ketika seorang Mande Kanduang Sako yang mengenakan kerudung biru bermotif elegan dan baju gamis yang serasi, menyerahkan sebuah bingkisan putih yang berisi kebutuhan pokok. Bingkisan itu diserahkan langsung kepada seorang anggota Mande Kanduang Sako lain yang duduk di atas matras berdebu, dengan tatapan mata penuh makna yang menggambarkan campuran antara kelelahan dan rasa terima kasih. Ibu penerima bantuan itu sendiri tampak mengenakan bot kuning tebal, mungkin satu-satunya alas kaki yang tersisa dan paling praktis untuk medan berlumpur.
Kumpulan ibu-ibu tersebut, baik yang menjadi korban maupun yang datang membawa bantuan, terlihat duduk bersama di area terbuka dekat rumpun bambu yang lebat. Mereka memanfaatkan sepotong matras lusuh dan kursi seadanya sebagai tempat berkumpul di tengah puing sisa banjir.
Pemandangan ini menyajikan potret nyata dari semangat kebersamaan dan gotong royong khas Minangkabau. Di Surau Gadang hingga Banda Gadang, Mande Kanduang Sako tidak hanya menyerahkan bantuan materi, tetapi juga bantuan emosional sebuah pengakuan bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi musibah.
Aksi berbagi bingkisan ini menjadi pengingat yang kuat bahwa ikatan persaudaraan dan komunitas adalah kekuatan terbesar dalam upaya pemulihan pasca-bencana, memastikan bahwa tidak ada satupun anggota keluarga besar Mande Kanduang Sako yang merasa ditinggalkan dalam perjuangan mereka membangun kembali. (And)

