-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tembus Birokrasi, Andre Rosiade Desak Diskresi Menteri PU Selamatkan Jalan Malalak

08 Desember 2025 | 08 Desember WIB Last Updated 2025-12-07T23:44:59Z

MALALAK, SUMBAR - 7 DESEMBER 2025 - Langit Minggu yang memayungi ranah Minang, di tengah kesunyian perbukitan yang menyimpan luka, sebuah ikrar persaudaraan terpatri. Malalak, lembah hijau yang biasanya menenun kedamaian, kini meratap dalam. Urat nadinya sebuah jalan telah terputus, memisah mimpi dari kenyataan, membatasi langkah kaki anak negeri.


Di tepian jurang kewenangan, di mana batas antara APBD Provinsi dan APBN Pusat seringkali menjadi tembok, hadirlah sekelompok hati yang membawa misi menjadi jembatan.


Mereka berdiri, memandang kerusakan yang terhampar. Ada Andre Rosiade, anggota parlemen dari Gerindra, membawa amanah suara dari Jakarta. Di sisinya, berdiri kokoh Koentjoro, nahkoda dari Hutama Karya, bersama Kepala BPJN Sumbar, Armizoprades dari Dinas Bina Marga, dan sang tuan rumah, Camat Ulya Satar. Mereka bukan hanya mengukur keretakan aspal, mereka mengukur dalamnya kesedihan yang mencekik denyut nadi ekonomi dan sosial Malalak.


  “Kewenangan hanyalah garis di atas peta, tetapi kebutuhan rakyat adalah lautan yang tak bertepi.”


Jalan itu, meskipun secara administrasi berada di bawah naungan Provinsi Sumatera Barat, kini menuntut lebih dari sekadar anggaran daerah. Andre Rosiade menghela napas, menyadari betapa agungnya tugas yang diemban. Angka Rp 400 miliar bukanlah nominal belaka, melainkan harga sebuah kembali berdetaknya harapan.


Inilah momen ketika politik harus bertekuk lutut di hadapan kemanusiaan. Langkah yang diambil adalah langkah suci, meminta diskresi sebuah sentuhan tangan dari Menteri PU agar palu APBN dapat diketuk, menembus sekat birokrasi, dan mengalirkan dana pemulihan.


“Kami hadir,” ujarnya, suaranya mengandung janji dari bilik Senayan. “Kami akan berjuang meyakinkan. Ini bukan sekadar membangun jalan, ini adalah menjahit kembali benang kehidupan yang putus di Malalak.”


Janji ini, diresapi oleh semangat yang diwariskan oleh Prabowo Subianto, bahwa setiap kader harus menjadi hadiah nyata bagi masyarakat, menjadi tangan yang membantu, bukan hanya lidah yang berjanji.


Matahari perlahan beranjak, namun di Malalak, sebuah fajar baru sedang disemai. Para pemimpin telah melihat luka itu, menyentuhnya, dan berikrar untuk menyembuhkannya. Kini, bola harapan itu menggelinding, menuju meja keputusan di pusat kekuasaan. Doa segenap warga Malalak mengiringi, berharap diskresi itu turun, secepat air hujan yang menyuburkan kembali tanah Sumatera, agar jalan mereka kembali menjadi lorong menuju masa depan yang cerah. (And) 

×
Berita Terbaru Update