PADANG – Di tengah hiruk pikuk upaya penanggulangan dampak banjir bandang yang melanda Sumatera Barat, sebuah kisah pilu datang dari sudut tersembunyi Kota Padang. Warga di kawasan Tugu Kabun Puti, Lubuk Minturun, saat ini bertahan hidup di lantai musala yang dingin, menanti uluran tangan bantuan yang belum juga tiba.
Laporan darurat yang masuk melalui grup Kolaborasi Jurnalis Indonesia (KJI) pada Rabu pagi (3/12) mengungkapkan kondisi memprihatinkan. Sejumlah rumah di Tugu Kabun Puti mengalami keretakan parah dan nyaris ambruk setelah diterjang air bah, memaksa puluhan jiwa termasuk anak-anak harus mengungsi.
Dalam sebuah foto yang menyentuh hati, tampak puluhan warga, tua dan muda, berbaring rapat di atas tikar seadanya di lantai keramik sebuah musala. Mereka berbagi ruang dan kehangatan dari selimut-selimut lusuh, bantal yang tipis, dan kain sarung, mencoba mencuri istirahat di tengah ketidakpastian. Pilar beton yang tegak di tengah ruangan seolah menjadi saksi kelelahan dan kecemasan mereka.
"Yang di Padang yang ado chanel untuk membantu warga yang keno musibah banjir Sumbar... Iko ado warga Tugu Kabun Puti, arah Muko BBI Lubuk Minturun, yang kondisi beberapa rumah di situ lah ratak-ratak (sudah retak-retak), warga situ kini lalok di musala yang masih bisa digunakan," tulis seorang pelapor dalam pesan berantai yang menjadi alarm bagi relawan.
Akses yang sulit dan posisi yang "agak tersuruk" (tersembunyi) menjadi alasan utama mengapa lokasi ini luput dari pendataan awal. Hingga laporan ini diteruskan, belum ada satu pun perangkat pemerintah daerah yang berhasil menjangkau atau mendata secara resmi kebutuhan warga Tugu Kabun Puti. Mereka seolah terisolasi dalam musibah yang meluas, dengan bantuan logistik dan medis yang belum menyentuh.
"Karano tampek nyo agak tasuruk, alun tadata mereka ko lai. Alun ado perangkat pemerintah yang datang," tambah pelapor.
Kondisi ini menyoroti pentingnya penyisiran menyeluruh di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau. Kebutuhan paling mendesak saat ini adalah selimut, alas tidur yang layak, makanan siap saji, dan yang paling utama, pendataan resmi agar mereka segera mendapatkan bantuan struktural untuk perbaikan rumah.
Para relawan Kota Padang didesak untuk segera memprioritaskan penyaluran bantuan ke lokasi ini dan melakukan koordinasi intensif dengan BPBD serta aparat kecamatan setempat guna memastikan bahwa tidak ada satu pun korban bencana yang terlewatkan dan terpinggirkan. (And)
