-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

BWSS-V "Alfa" di Banda Bakali, Membiarkan Sedimen Menabung Petaka

20 Januari 2026 | 20 Januari WIB Last Updated 2026-01-20T02:25:07Z

Jika ada penghargaan untuk pembiaran infrastruktur paling berbahaya tahun ini, maka Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) V layak berada di barisan terdepan. Kondisi Banjir Kanal (Banda Bakali) di Jati hingga Alai Parak Kopi saat ini bukan lagi sekadar sungai yang dangkal, melainkan bukti nyata "alfa" atau absennya negara dalam merawat urat nadi keselamatan warga Kota Padang.


Transformasi sungai menjadi lapangan bola dadakan oleh anak-anak akibat sedimen yang membatu adalah sebuah tamparan keras. Di mana fungsi pengawasan BWSS-V? Bagaimana mungkin instansi yang memiliki otoritas penuh atas wilayah sungai bisa "tidur nyenyak" selama dua tahun, sementara tumpukan pasir dan lumpur perlahan merampas kapasitas daya tampung air?

Kesaksian warga mengenai ketiadaan pengerukan selama dua tahun terakhir bukan sekadar keluhan tanpa dasar. Ini adalah rapor merah bagi manajemen BWSS-V. Secara teknis, membiarkan sedimen menumpuk di kanal utama drainase makro adalah tindakan yang ceroboh dan tidak bertanggung jawab.


Banda Bakali bukan kanal hiasan, ia adalah pertahanan terakhir Kota Padang agar tidak tenggelam saat curah hujan ekstrem melanda. Ketika BWSS-V memilih untuk "alfa" dalam melakukan normalisasi, mereka sebenarnya sedang menyusun skenario bencana bagi ribuan warga di sepanjang aliran sungai tersebut.


Publik patut bertanya, dikemanakan anggaran pemeliharaan rutin jika selama dua tahun tidak ada satu pun alat berat yang menyentuh sedimen di titik-titik krusial ini? Apakah BWSS-V menunggu hingga terjadi bencana besar yang menelan korban jiwa dan harta benda baru akan tergesa-gesa melakukan pengerukan darurat?


Jika alasan birokrasi, tender, atau anggaran terus diputar-putar seperti kaset lama, maka itu adalah bentuk kegagalan manajerial yang akut. Infrastruktur pengendali banjir bersifat urgent dan wajib, bukan pilihan yang bisa ditunda-tunda sesuka hati.


Kita tidak butuh seremonial tinjauan lapangan atau janji-janji manis dalam rapat koordinasi. Rakyat butuh melihat alat berat bekerja di Banda Bakali. Kehadiran negara diwakili oleh tindakan nyata, bukan oleh kekosongan aksi di lapangan.

Pimpinan BWSS-V harus bertanggung jawab atas pembiaran ini. Jangan sampai keceriaan anak-anak bermain bola di atas tumpukan sedimen itu berubah menjadi duka nasional hanya karena instansi terkait abai melakukan tugas paling mendasarnya, mengeruk sungai.


Hentikan sikap "alfa" ini sekarang juga sebelum alam yang datang menagih paksa dengan cara yang menyakitkan.


Padang, 20 Januari 2026

Oleh: Andarizal

×
Berita Terbaru Update