Motto "Kami Telah Berbuat Sebelum yang Lain Memikirkannya" bukan sekadar rangkaian kata tanpa makna. Bagi PT Semen Padang, kalimat itu adalah janji historis tentang kepeloporan dan kepedulian. Namun, jika kita melihat kondisi jalan di RT 02 RW 12 Padayo, Kelurahan Indarung, janji tersebut seolah menguap di tengah kepulan debu saat kering dan tenggelam dalam kubangan lumpur saat hujan.
Surat aspirasi nomor 406/LSM-FK MTI/PDG-SBR/III/2025 yang dilayangkan Forum Komunikasi Masyarakat Tionghoa Indonesia (FKMTI) Kota Padang menjadi alarm keras bagi pemangku kepentingan. Kondisi jalan tanah dari pos retribusi Gua Kelelawar hingga ke rumah-rumah petani Padayo tidak hanya sekadar "rusak", tapi sudah berada pada level membahayakan keselamatan nyawa manusia.
Sungguh sebuah ironi yang getir. Di satu sisi, pemerintah melalui Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sumbar telah menyentuh area tersebut dengan betonisasi. Namun, proyek tersebut menyisakan tanda tanya besar, mengapa pembangunannya terputus? Mengapa ada "lubang" sepanjang 200 meter yang dibiarkan terbengkalai di tengah jalan yang sudah dibeton di kedua ujungnya?
Pembangunan yang setengah hati adalah bentuk pemborosan anggaran sekaligus penghinaan terhadap kebutuhan mobilitas rakyat. Rakyat tidak butuh proyek yang hanya tampak bagus di laporan administratif, mereka butuh akses yang fungsional secara utuh.
Lokasi ini bukan berada di pelosok yang tak terjangkau. Padayo berada di bawah bayang-bayang kantor pusat PT Semen Padang. Sebagai raksasa industri yang tumbuh dari tanah Minang, sangatlah wajar jika masyarakat menaruh harapan besar pada kepedulian korporasi ini.
Sangat disayangkan jika surat aspirasi yang dikirimkan oleh tokoh masyarakat, Bapak Anuir Dt. Rajo Usali Rang Tuo Malayu Ninik Mamak Kec. Lubuk Kilangani, hanya berakhir di meja arsip tanpa realisasi nyata. Jika jalan tersebut berada dalam lingkungan perusahaan, maka membiarkannya dalam kondisi yang mengancam keselamatan warga adalah bentuk pengabaian terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial yang sering didengungkan dalam seremoni korporasi.
Pemerintah Kota Padang dan Direksi PT Semen Padang tidak boleh lagi saling lempar tanggung jawab atau terjebak dalam birokrasi yang lamban. Rakyat Padayo adalah bagian dari penggerak ekonomi (pertanian) dan penjaga potensi wisata alam Gua Kelelawar.
Sudah saatnya Bapak Walikota dan jajaran Direksi turun ke lapangan, merasai sendiri betapa buruknya jalan Padayo, dan segera mengirimkan alat berat sebelum jatuh korban jiwa. Jangan sampai motto "Berbuat Sebelum yang Lain Memikirkannya" berubah menjadi "Baru Berpikir Setelah Ada Korban Jiwa."
Padang, 17 Januari 2026
Oleh: Andarizal
