-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Bank Nagari, Menjadi Tuan Rumah atau Penonton di Ranah Sendiri?

15 Januari 2026 | 15 Januari WIB Last Updated 2026-01-15T01:17:15Z

Sejak memancangkan tonggak pertamanya pada 12 Maret 1962, Bank Nagari bukan sekadar lembaga keuangan bagi masyarakat Sumatera Barat. Ia adalah simbol kedaulatan ekonomi lokal. Lahir dengan nama PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Barat, institusi ini memikul mandat besar, menjadi mesin penggerak pembangunan di ranah Minang. Namun, di usia yang telah melewati enam dekade, Bank Nagari kini berdiri di persimpangan jalan yang menentukan.


Secara historis, Bank Nagari patut diapresiasi atas loyalitasnya mendampingi UMKM dan sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Namun, narasi kebanggaan "milik daerah" tidak lagi cukup untuk memenangkan pasar di era disrupsi.


Lahirnya aplikasi Ollin menunjukkan upaya bank untuk beradaptasi. Meski demikian, pertanyaannya tetap kritis. Seberapa jauh inovasi ini mampu bersaing dengan bank-bank raksasa nasional atau tekfin (fintech) yang kian agresif masuk ke pelosok nagari? Digitalisasi bukan sekadar memindahkan layanan ke ponsel, melainkan tentang kecepatan, keamanan, dan ekosistem yang terintegrasi.


Isu krusial yang tengah menguji daya tahan Bank Nagari adalah rencana konversi menjadi bank syariah sepenuhnya. Di satu sisi, langkah ini adalah refleksi dari filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Secara sosiologis, ini adalah langkah berani untuk memperkuat identitas.


Namun, dari sudut pandang kritis, transisi ini menyimpan risiko transaksional jika tidak dikelola dengan hati-hati. Bank Nagari harus mampu menjamin bahwa konversi ini tidak hanya mengubah "label", tetapi juga memberikan skema pembiayaan yang lebih kompetitif dan inklusif. Jangan sampai semangat spiritualitas justru melemahkan daya saing bisnis di tengah ketatnya likuiditas perbankan saat ini.


Sebagai bank yang sahamnya dimiliki oleh pemerintah daerah, Bank Nagari selalu berada di bawah bayang-bayang kepentingan politik lokal. Tantangan terbesarnya adalah menjaga Independensi dan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (GCG).


Direksi dan manajemen dituntut untuk tetap profesional dan steril dari intervensi politik, terutama dalam penyaluran kredit besar atau penentuan kebijakan strategis. Kepercayaan nasabah adalah aset paling berharga, sekali kepercayaan itu goyah karena isu tata kelola, maka marwah sebagai "bank kebanggaan" akan sulit dipertahankan.


Bank Nagari telah membuktikan diri sebagai penyintas sejarah yang tangguh. Namun, untuk tetap relevan, ia tidak boleh hanya berlindung di balik narasi nostalgia sebagai "bank orang awak".


Ke depan, Bank Nagari harus berani tampil lebih lincah (agile), transparan, dan inovatif. Menjadi bank daerah bukan berarti berpikiran kedaerahan. Bank Nagari harus tetap berakar pada budaya lokal, namun memiliki standar pelayanan dan teknologi kelas dunia. Hanya dengan cara itulah, ia tetap menjadi tuan rumah yang disegani di rumah sendiri.


Padang, 15 Januari 2026

Oleh: Andarizal

×
Berita Terbaru Update