-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

NAGARI UNGGAN DALAM NADA: EKSPLORASI KESENIAN DAN KEINDAHAN TALEMPONG

09 Januari 2026 | 09 Januari WIB Last Updated 2026-01-09T13:49:36Z
Oleh : Citra Kurnia Illahi, Delon Ardiansyah, Ikbal Oktari, Muhammad Farhan Lazwardi, Purwantono, Universitas Negeri Padang 
Email: citrathaufiq@gmail.com


ABSTRAK

Talempong Unggan merupakan seni tradisional khas dari Nagari Unggan, Kabupaten Sijunjung, yang memiliki keunikan pada sistem nada, pola permainan, dan tradisi sosialnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi nilai estetika dan kearifan lokal yang terkandung dalam kesenian tersebut. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Talempong Unggan menggunakan lima tangga nada khas dengan tempo cepat yang dinamis. Secara adat, kesenian ini hanya dimainkan oleh perempuan. Terdapat pula kearifan lokal berupa larangan memainkannya saat masa padi tabik (padi berbuah) demi menjaga hasil panen. Talempong Unggan terbukti bukan sekadar hiburan, melainkan identitas budaya yang menyatukan seni, nilai sosial, dan filosofi hidup masyarakat Minangkabau.

Kata Kunci: Talempong Unggan, Seni Tradisional, Minangkabau, Perempuan, Padi Tabik.


I. PENDAHULUAN


Minangkabau memiliki kekayaan seni yang berakar kuat pada adat matrilineal, di mana musik tradisional berfungsi sebagai sarana komunikasi budaya dan perekat sosial. Salah satu instrumen yang paling menonjol adalah talempong. Di Nagari Unggan, Kabupaten Sijunjung, terdapat varian unik yang dikenal sebagai Talempong Unggan.


Kesenian ini memiliki distingsi pada sistem nada yang sederhana namun harmonis, serta tempo permainan yang enerjik. Keunikan lainnya terletak pada aspek sosiologis, di mana perempuan memegang peran sentral sebagai pelaku utama. Selain itu, terdapat keterikatan antara aktivitas musikal dengan kalender agraris masyarakat setempat. Artikel ini akan mengupas mendalam mengenai aspek musikalitas, peran gender, serta mitos yang melingkupi Talempong Unggan sebagai simbol kearifan lokal yang bertahan di era globalisasi.


II. METODE PENELITIAN


Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menggambarkan fenomena seni secara mendalam.


 * Lokasi: Nagari Unggan, Kabupaten Sijunjung.


 * Subjek: Pemain talempong perempuan, tokoh adat, dan praktisi seni lokal.


 * Teknik Pengumpulan Data: Observasi partisipatif pada kegiatan latihan, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi.


 * Analisis Data: Reduksi data, penyajian data secara sistematis, dan penarikan kesimpulan melalui triangulasi sumber untuk menjamin validitas hasil penelitian.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Struktur Musikal dan Sistem Nada


Talempong Unggan tidak menggunakan sistem diatonis Barat, melainkan lima nada khas yang disusun dengan urutan: 4 - 2 - 1 - 3 - 5.


 * Nada 1 diposisikan di tengah sebagai poros.


 * Nada 2 & 4 berada di sisi kiri.


 * Nada 3 & 5 berada di sisi kanan.


Meskipun terbatas pada lima nada, kreativitas pemain memungkinkan terciptanya harmoni yang dinamis. Ciri khas utama permainannya adalah tempo cepat. Hal ini menuntut keterampilan teknis tinggi, kecepatan tangan, dan sinkronisasi yang sempurna antar pemain agar irama tetap stabil.


3.2 Peran Perempuan dalam Tradisi


Secara turun-temurun, Talempong Unggan adalah ranah ekspresi kaum perempuan. Perempuan di Nagari Unggan berperan sebagai pewaris sekaligus penjaga orisinalitas teknik permainan. Sebaliknya, terdapat tabu sosial bagi laki-laki untuk memainkan instrumen ini; laki-laki yang melanggar akan mendapatkan stigma negatif. Fenomena ini mempertegas posisi perempuan Minangkabau dalam pelestarian nilai-nilai estetik dan komunal.


3.3 Ragam Melodi Tradisional


Terdapat variasi melodi yang membawa filosofi kehidupan, di antaranya:


 * Tupai Bagaluik: Memiliki ritme lincah yang merepresentasikan gerakan tupai di pepohonan; simbol kegembiraan.


 * Kancang Dayuang: Memiliki ketukan kuat yang meniru gerakan mendayung; simbol semangat gotong royong dan kebersamaan.


3.4 Kearifan Lokal: Larangan Padi Tabik


Kesenian ini terikat erat dengan sistem kepercayaan agraris. Terdapat larangan memainkan Talempong Unggan saat masa padi tabik (padi mulai berisi/berbunga). Masyarakat meyakini suara talempong pada masa ini dapat menyebabkan padi menjadi ampo (kosong). Larangan ini merupakan bentuk penghormatan manusia terhadap alam dan upaya menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.

IV. KESIMPULAN


Talempong Unggan adalah manifestasi dari harmoni antara seni, manusia, dan alam. Keunikan sistem nada, dominasi peran perempuan, serta keterikatannya dengan mitos pertanian menjadikan kesenian ini sebagai identitas budaya yang sangat kuat di Nagari Unggan. Pelestarian kesenian ini penting dilakukan tidak hanya sebagai upaya menjaga warisan musik, tetapi juga sebagai cara mempertahankan filosofi hidup masyarakat Minangkabau yang menjunjung tinggi kearifan lokal.


REFERENSI


 * Bahar, I. M., et al. (2011). Pembelajaran Musik Talempong Unggan Berdasarkan Literatur.


 * Madona, A. (2018). Instrumentasi dan Aspek Teknis Permainan Talempong Pacik Masyarakat Minangkabau. Jurnal Seni Desain dan Budaya.


 * Marh, F., & Budiawan, H. (2020). Domestikasi Perempuan Melalui Musik Perkusi Tradisional Calempong di Nagari Unggan. Jurnal Penelitian Musik.


 * Nengsih, Y. R. (2019). Bentuk Penyajian Talempong Unggan pada Acara Khitanan di Kecamatan Sumpur Kudus. Jurnal Sendratasik.

×
Berita Terbaru Update