Dunia adalah samudera yang luas, dan setiap anak adalah nakhoda bagi kapalnya sendiri. Suatu ketika, di tepian dermaga kehidupan, seorang ayah pernah membisikkan sebuah wasiat yang bukan berupa harta, melainkan sebuah kompas batin. "Ini takdirmu, Nak. Hadapi dan lawan."
Takdir bukanlah sebuah hukuman, melainkan undangan untuk bertarung. Ayah mengajarkan bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak memiliki rasa takut, melainkan keberanian untuk tetap berdiri saat badai menerjang. Ia tahu bahwa layar telah terkembang, dan pantang bagi seorang pelaut untuk melipat kembali layarnya sebelum sampai ke tujuan. "Selesaikan apa yang sudah kamu mulai," pesannya, sebuah pengingat bahwa kehormatan seseorang terletak pada kemampuannya menuntaskan tanggung jawab.
Namun, ayah juga sadar akan keterbatasan manusia. Di balik ketegasannya, ia menitipkan kerendahan hati, jangan pernah berjalan sendirian. Ia memintamu melibatkan Tuhan dalam setiap helaan napas perjuanganmu. Sebab, kerja keras tanpa doa adalah kesombongan, dan doa tanpa kerja keras adalah kesia-siaan. Ayah ingin kamu sadar bahwa saat kakimu mulai letih melangkah di bumi, ada kekuatan langit yang siap menopangmu.
Mungkin ada ketakutan yang tersirat dalam nada bicaranya, ketakutan akan hari di mana ia tak lagi mampu menjadi tameng saat dunia menyakitimu. Ayah adalah manusia biasa yang memiliki batas waktu. Ia tak selamanya bisa menjadi tempatmu bersembunyi dari perihnya kenyataan.
Namun, ia menitipkan sebuah rahasia yang paling dalam.
"Setiap sujud, ada namamu yang lebih dulu Ayah sebut dalam doa."
Inilah bentuk cinta yang paling murni. Saat ia terlihat kuat di depanmu, sebenarnya ia sedang melangitkan namamu dengan penuh kerentanan di hadapan Sang Pencipta. Ia mungkin tak lagi bisa memelukmu secara fisik saat kamu runtuh, namun doanya akan menjadi jubah hangat yang menyelimuti jiwamu di malam-malam yang dingin dan penuh tangis.
Jika hari itu tiba, hari di mana kamu harus menangis sendirian tanpa kehadirannya ingatlah bahwa kamu tidak benar-benar sendiri. Kekuatanmu hari ini adalah akumulasi dari setiap tetes air mata dan doa yang ayahmu panjatkan dalam sunyi. Kamu adalah wujud dari harapannya yang paling besar.
Ayah mungkin lemah saat membayangkanmu berjuang sendirian, namun ia percaya bahwa didikan dan doanya telah menanamkan akar yang cukup kuat dalam dirimu untuk menghadapi dunia, meski tanpanya.
Padang, 8 Januari 2026
By: Andarizal
