Genap satu tahun sudah duet Fadly Amran dan Maigus Nasir menakhodai Kota Padang. Di tengah deru pembangunan fisik dan janji-janji politik yang sedang diuji waktu, sebuah sinyal positif muncul dari koridor demokrasi, hubungan Pemerintah Kota dengan insan pers yang diklaim kian menguat. Namun, di balik narasi "harmoni" dan apresiasi yang mengalir dari Youth Center Gedung Bagindo Aziz Chan (20/2), tersimpan sebuah tantangan substansial yang jauh lebih besar. Harmoni sejati dalam demokrasi bukanlah kepatuhan tanpa tanya, melainkan kemampuan kedua belah pihak untuk merawat nalar kritis demi kepentingan publik yang lebih luas.
Apresiasi yang disampaikan oleh Ketua Umum Kolaborasi Jurnalis Indonesia (KJI), Andarizal, mengenai terbukanya ruang dialog yang lebih sehat, merupakan sebuah pencapaian yang patut dicatat. Dalam lanskap birokrasi yang terkadang kaku, keberanian Fadly-Maigus untuk membuka keran informasi adalah langkah maju. Kita melihat adanya pergeseran pola komunikasi, dari yang semula bersifat searah dan instruktif, menjadi lebih kolaboratif dan dialogis.
Namun, keterbukaan ini jangan sampai terjebak pada kulit luar. Pers bukan sekadar instrumen pelengkap untuk mempercantik agenda seremonial pemerintah di media sosial. Sebaliknya, keterbukaan yang ditawarkan Pemko Padang harus dimaknai sebagai undangan bagi pers untuk membedah kebijakan secara lebih mendalam. Kebebasan akses informasi publik adalah bahan bakar bagi transparansi dan akuntabilitas yang sesungguhnya.
Salah satu poin paling krusial dalam refleksi satu tahun ini adalah penegasan bahwa kritik bukanlah bentuk perlawanan. Dalam ekosistem pemerintahan yang sehat, kritik dari jurnalis adalah "obat pahit" yang menyembuhkan, bukan "racun" yang mematikan. Sinergi yang dibangun antara KJI dan Pemko Padang harus berlandaskan pada pemahaman bahwa pemerintah yang kuat justru lahir dari pengawasan publik yang tajam.
Di sisi lain, jurnalis di Kota Padang pun menghadapi tantangan internal yang tak kalah berat, disrupsi digital dan maraknya hoaks. Di sinilah komitmen Fadly-Maigus diuji. Dukungan terhadap peningkatan kompetensi jurnalis, seperti yang disinggung Andarizal menjadi sangat relevan. Kita membutuhkan jurnalis yang tidak hanya cepat dalam mengirim berita, tetapi juga cerdas dalam memverifikasi data dan berintegritas dalam menjaga kode etik.
Satu tahun pertama sering kali dianggap sebagai masa "bulan madu" politik. Fondasi kemitraan strategis telah diletakkan di Youth Center. Namun, ujian sesungguhnya bagi harmoni ini akan muncul pada tahun-tahun berikutnya. Tantangan perkotaan seperti kemacetan, penataan pasar, hingga mitigasi bencana akan terus menguji sejauh mana transparansi itu benar-benar dijalankan.
Kita tentu tidak ingin melihat harmoni ini retak hanya karena ada pena yang menuliskan fakta pahit. Begitu pula kita tidak ingin melihat pers kehilangan taji hanya karena merasa sudah "dirangkul" oleh kekuasaan.
Kemajuan Kota Padang tidak hanya ditentukan oleh seberapa megah infrastruktur yang dibangun, tetapi juga oleh seberapa sehat peradaban komunikasinya. Sinergi Fadly-Maigus dengan pers harus terus dirawat sebagai kemitraan yang saling menghormati jarak profesionalitas masing-masing. Pemerintah tetap pada jalurnya mengeksekusi kebijakan, dan pers tetap pada khitahnya sebagai penyambung lidah rakyat.
Di titik itulah, harmoni dan nalar kritis akan bertemu untuk satu tujuan, Padang yang lebih baik, lebih transparan, dan lebih berkeadilan.
Padang, 20 Februari 2026
Oleh: Redaksi
