Seleksi calon Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Padang kini tengah berada di bawah radar pengawasan publik. Dari enam nama yang dinyatakan lolos seleksi administrasi, narasi yang berkembang di permukaan seolah-olah sudah "mengunci" satu nama sebagai pemenang de facto. Raju Minropa, dengan segala senioritas dan kedekatan politiknya, diunggulkan hingga angka 99 persen.
Namun, di balik dominasi prediksi tersebut, muncul sebuah diskursus yang menarik untuk dicermati, apakah Kota Padang hanya butuh administrator ulung, atau juga butuh komunikator yang inklusif? Di sinilah nama Ances Kurniawan mencuat sebagai "energi baru" yang membawa warna berbeda dalam bursa calon panglima birokrasi di Balai Kota.
Ances Kurniawan, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Dinas Perhubungan Kota Padang, mulai dipandang sebagai sosok penyeimbang. Jika kandidat lain unggul dalam aspek senioritas atau kedekatan dengan lingkaran kekuasaan tertentu, Ances menawarkan sesuatu yang selama ini sering terabaikan namun sangat krusial. Aksebilitas publik.
Dalam dunia birokrasi yang seringkali kaku dan eksklusif, gaya kepemimpinan yang terbuka adalah barang mewah. Bagi komunitas pers, sosok Ances dikenal memiliki gaya yang "Ramah Tinta". Ia adalah pejabat yang tidak membangun tembok tinggi ketika dikonfirmasi, tidak alergi terhadap kritik, dan memahami bahwa jurnalis adalah mitra strategis, bukan musuh pembangunan.
Seorang Sekda adalah dirigen birokrasi. Ia bertugas menerjemahkan visi Walikota menjadi aksi nyata di lapangan. Namun, aksi nyata tersebut akan kehilangan resonansinya jika tidak terkomunikasikan dengan baik kepada masyarakat. Di sinilah peran media menjadi vital.
Sumbatan informasi sering terjadi ketika pejabat di posisi strategis, seperti Sekda, cenderung menjaga jarak atau bahkan menutup diri dari awak media. Kondisi "jaga jarak" ini seringkali melahirkan prasangka dan menghambat transparansi. Dengan gaya "Ramah Tinta" yang melekat pada Ances, ada harapan bahwa pola komunikasi antara pemerintah kota dan insan pers akan jauh lebih harmonis, cair, dan produktif.
Memang benar, keputusan akhir berada di tangan Walikota Fadly Amran. Sebagai pemegang hak prerogatif, Walikota tentu memiliki pertimbangan komprehensif. Namun, memilih Sekda bukan sekadar soal menempatkan orang yang paling patuh atau paling senior, melainkan memilih sosok yang mampu merangkul semua elemen, termasuk pilar pers.
Munculnya aspirasi yang mendukung Ances Kurniawan sebagai "Kuda Hitam" dalam seleksi ini adalah sinyal bahwa publik menginginkan perubahan atmosfer di pemerintahan. Mereka mendambakan sosok yang enerjik, terbuka, dan mudah ditemui untuk mendiskusikan persoalan kota.
Penutup
Proses seleksi sedang berjalan, dan hasil akhir mungkin saja tetap sesuai prediksi mayoritas. Namun, catatan ini menjadi pengingat penting bagi siapapun yang nantinya duduk di kursi Sekda definitif, bahwa integritas seorang pejabat juga diukur dari bagaimana ia membuka diri terhadap pengawasan publik melalui mata dan telinga para jurnalis.
Jika Kota Padang ingin berlari lebih kencang, maka dibutuhkan energi baru yang mampu menyatukan semua lini. Dan bagi banyak pihak, gaya "Ramah Tinta" ala Ances Kurniawan adalah salah satu kuncinya.
Padang, 31 Maret 2026
Oleh: Andarizal, Ketua Umum KJI
