-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Kerja Nyata PJN Wilayah II Sumbar, Progres Jembatan Gantung Limau Gadang Capai 51,16 Persen

15 April 2026 | 15 April WIB Last Updated 2026-04-15T03:07:06Z


SUMBAR - 15 APRIL 2026 - Harapan masyarakat untuk memiliki akses penghubung yang kokoh dan representatif kini mulai menampakkan wujudnya. Proyek pembangunan Jembatan Gantung Limau Gadang Batu Kunik, yang membentang di bawah pengawasan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat, dilaporkan terus menunjukkan tren positif dengan progres fisik yang kini telah melampaui angka psikologis 50 persen.


Sejak diletakkannya batu pertama pada Desember 2025 lalu, proyek di bawah naungan Direktorat Jenderal Bina Marga ini menjadi salah satu prioritas Kementerian Pekerjaan Umum untuk mempercepat konektivitas antarwilayah di Sumatera Barat. Berdasarkan data terbaru, pengerjaan kini telah mencapai "51,16 persen".

Kepala Satker PJN Wilayah II Sumbar, Masudi, ST., MT, melalui tim lapangan yang dipimpin oleh Gina Lamria Indriati Tampubolon selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK 2.4), menjelaskan bahwa struktur utama jembatan kini menjadi fokus utama.


"Saat ini, tim di lapangan tengah berkonsentrasi penuh pada pembesian dan pengecoran "counterweight" serta pembangunan struktur pylon pada ABT 2," ujar Gina. Pylon sendiri merupakan "jantung" dari jembatan gantung yang akan berfungsi sebagai penopang utama beban kabel dan lalu lintas yang melintas di atasnya.


Sebelumnya, tim telah berhasil merampungkan pembongkaran jembatan lama secara total. Pada sisi ABT 1, struktur pylon telah berdiri tegak, lengkap dengan pemasangan blok angkur yang akan menjadi tambatan kekuatan kabel baja jembatan.


Meski tantangan cuaca dan medan sering kali menjadi variabel tak terduga, komitmen untuk menghadirkan infrastruktur tepat waktu tetap menjadi napas utama proyek ini. Jembatan Gantung Limau Gadang Batu Kunik ditargetkan rampung sepenuhnya pada "Juli 2026".


Dengan sisa waktu sekitar tiga bulan kedepan, pengerjaan akan memasuki fase krusial, yakni pemasangan kabel utama dan perakitan lantai jembatan. Jika target ini tercapai, masyarakat tidak perlu lagi khawatir saat melintasi sungai, terutama di tengah kondisi cuaca ekstrem yang sering melanda wilayah tersebut.


Pembangunan jembatan ini bukan sekadar persoalan teknis pengerjaan sipil. Di balik pengecoran "counterweight" dan berdirinya pylon, ada semangat untuk menghidupkan kembali nadi ekonomi lokal. Jembatan ini diharapkan menjadi urat nadi baru bagi distribusi hasil bumi dan akses pendidikan bagi warga sekitar.


"Dengan semangat dan komitmen bersama, kami berharap pembangunan ini berjalan lancar. Tujuannya satu, memberikan manfaat nyata yang bisa langsung dirasakan oleh masyarakat," terang Gina.


Kini, masyarakat Limau Gadang hanya perlu menunggu beberapa bulan lagi hingga jembatan gantung tersebut benar-benar siap dipijak, menyatukan dua sisi daratan, dan membuka pintu peluang yang lebih luas bagi masa depan daerah mereka.


Di tengah deru mesin dan kesibukan pekerja mengejar target penyelesaian, pihak PJN Wilayah II Sumatera Barat tidak menutup mata terhadap kebutuhan mendesak warga yang harus menyeberang setiap harinya. Menyadari bahwa jembatan lama telah dibongkar sepenuhnya, langkah-langkah darurat telah disiapkan agar urat nadi aktivitas masyarakat tidak terputus total.

Gina mengungkapkan bahwa, pihaknya telah mengupayakan solusi taktis di lapangan. Saat kondisi debit air sungai menyusut atau surut, tim telah menyiapkan susunan batu penyeberangan yang tertata sedemikian rupa. "Kami menyiapkan jalur penyeberangan manual menggunakan susunan batu agar warga tetap bisa melintas dengan aman di saat air sungai sedang dangkal," jelasnya.


Namun, tantangan sesungguhnya muncul ketika cuaca ekstrem melanda dan debit air sungai meningkat secara mendadak. Untuk mengantisipasi kondisi "air besar" yang membahayakan jika dipaksa menyeberang secara manual, sebuah sistem rori (kereta gantung sederhana) telah disiagakan.

Sistem rori ini memanfaatkan tali "sling" baja yang kuat, memungkinkan warga atau barang-barang penting berpindah sisi sungai dengan lebih aman saat arus sedang kuat. Kehadiran rori dan jalur batu ini menjadi bukti bahwa aspek kemanusiaan dan pelayanan publik berjalan beriringan dengan teknis pembangunan fisik.


"Kami ingin memastikan bahwa meskipun proses pembangunan sedang berlangsung, aksesibilitas warga seminimal mungkin tidak terganggu. Rori dan jalur batu ini adalah solusi transisi hingga jembatan permanen kita benar-benar siap beroperasi pada Juli mendatang," tambah Gina menutup keterangannya.


Dengan adanya langkah mitigasi ini, masyarakat Limau Gadang dapat terus menjalankan aktivitas ekonomi dan sosial mereka sembari menyaksikan pilar-pilar jembatan baru yang kini semakin kokoh menjulang menuju kesempurnaan.  (And) 


×
Berita Terbaru Update