Idul Fitri 2026 di Kota Padang tidak sekadar menjadi perayaan kemenangan usai sebulan berpuasa. Di balik pagar rumah dinas Walikota, terselip sebuah narasi tentang kemanusiaan dan kepemimpinan yang inklusif. Sosok Fadly Amran menjadi buah bibir, bukan karena kebijakan birokrasinya kali ini, melainkan karena caranya memuliakan "orang kecil."
Suasana open house tahun ini terasa berbeda. Tidak ada barikade protokoler yang kaku atau tatapan canggung antara pejabat dan rakyat jelata. Di bawah pendar lampu ruang tamu rumah dinas, semua tamu duduk di bangku yang sama, mencicipi hidangan yang sama, dan disambut dengan senyum yang sama tulusnya.
Seorang warga yang datang dengan pakaian sederhana, yang meminta namanya disimpan dalam lipatan catatan berbagi kisahnya dengan mata berbinar. Bagi dia, lebaran kali ini adalah tentang pengakuan martabat.
"Kami ini rakyat jelata, tapi di sini, di depan Pak Fadly, kami merasa setara. Beliau menyambut kami dengan hangat, seolah kami adalah kerabat lama. Belum pernah kami merasakan suasana sejuk seperti ini di bawah kepemimpinan sebelumnya," ungkapnya lirih namun penuh penekanan.
Narasi tentang kedermawanan sang Walikota pun bergulir dari mulut ke mulut. Bukan sekadar jabat tangan formalitas, Fadly Amran tampak memahami betul denyut kesulitan warganya. Tak sedikit warga yang pulang dengan senyum lebih lebar setelah mendapatkan bantuan uang transportasi, sebuah gestur kecil yang bagi sebagian orang mungkin biasa, namun bagi warga yang kesulitan, itu adalah bentuk nyata dari kehadiran negara.
"Setelah makan dan bersalaman, kami diperhatikan hingga hal kecil seperti ongkos pulang. Ini jarang terjadi. Beliau benar-benar pemimpin yang mengerti kondisi rakyatnya," ujar warga lainnya dengan nada kagum.
Kepuasan publik yang terekam di hari lebaran ini seolah menjadi antitesis dari gaya kepemimpinan kaku yang sering ditemui di panggung politik. Di mata warga, Fadly Amran tidak sedang membangun citra, melainkan sedang membangun jembatan hati.
Ketika banyak pemimpin terjebak dalam menara gading kekuasaan, Fadly memilih untuk turun ke lantai yang sama dengan rakyatnya. Bagi warga Padang, lebaran 2026 bukan hanya tentang ketupat dan rendang, tapi tentang kembalinya sosok "Ayah" di rumah rakyat yang bernama Rumah Dinas Walikota.
Padang, 3 Maret 2026
Oleh: Andarizal
