PULAU PUNJUNG – Langkah awal Medison, S.Sos., M.Si., sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) definitif Kabupaten Dharmasraya ditandai dengan seruan soliditas birokrasi. Dalam apel gabungan ASN di Pulau Punjung, Senin (11/05/2026), Medison menegaskan bahwa keberhasilan pemerintah daerah bergantung pada keselarasan gerak seluruh aparatur.
Ia menekankan bahwa tugas utama birokrasi saat ini adalah menjadi mesin penggerak utama dalam mewujudkan visi misi Bupati Annisa Suci Ramadhani dan Wakil Bupati Leli Arni, yakni “Dharmasraya Sejahtera Merata”.
"Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Harus satu irama, satu tujuan, satu komando. Seluruh energi, pikiran, dan kerja ASN harus diarahkan untuk menyukseskan visi misi kepala daerah," tegas Medison di hadapan ratusan ASN.
Pelantikan ini menjadi momen emosional bagi Medison. Dharmasraya merupakan tempat di mana ia pertama kali meniti karier sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada tahun 1994 silam.
Dengan nada reflektif, ia mengibaratkan perjalanannya seperti seorang prajurit yang kembali ke markas lama dengan tanggung jawab yang lebih besar.
“Saya dulu memulai karier dari bawah, ibarat masih seorang ‘kopral’ di Kecamatan Pulau Punjung. Hari ini saya kembali ke tempat yang sama sebagai ‘jenderal’ bagi ASN,” ungkapnya yang disambut antusias oleh peserta apel.
Medison resmi menjabat sebagai panglima ASN di Dharmasraya setelah menyelesaikan pengabdian panjangnya sebagai Sekda Kabupaten Solok pada 7 Mei 2026 lalu. Pengalamannya yang luas dalam mengawal perizinan berusaha (NIB) dan tata kelola BUMD diharapkan mampu membawa angin segar bagi percepatan pembangunan di Dharmasraya.
Sebagai birokrat berpengalaman, fokus utama Medison dalam waktu dekat adalah memastikan mesin birokrasi tetap stabil dan mampu mengeksekusi program-program strategis daerah secara transparan dan akuntabel.
Di balik podium itu, suara Medison bukan sekadar instruksi birokrasi, melainkan gema dari sebuah kepulangan. Baginya, tanah Dharmasraya bukan sekadar hamparan wilayah administrasi, melainkan lembar pertama dari buku hayatnya yang dimulai tiga dekade silam.
Jika pada tahun 1994 ia datang sebagai benih yang baru disemai, seorang 'kopral' yang menyusuri lorong-lorong Kecamatan Pulau Punjung dengan langkah kaki yang masih mencari arah, maka hari ini ia kembali sebagai pohon yang rindang. Ia pulang membawa ribuan pengalaman, menanggalkan atribut Sekda Solok untuk menjemput takdir yang memanggilnya kembali ke hulu.
Kini, di bawah langit Pulau Punjung yang sama namun dengan beban pundak yang berbeda, sang 'jenderal' mengajak seluruh abdi negara untuk tidak sekadar bekerja, melainkan mengabdi dengan detak jantung yang sama. Ia memintal loyalitas menjadi satu tali komando, memastikan bahwa setiap kebijakan yang lahir bukan sekadar deretan angka, melainkan napas yang menghidupkan mimpi "Sejahtera Merata".
Sebab baginya, memimpin birokrasi Dharmasraya adalah tentang merawat kembali akar yang dulu memberinya hidup. Ini adalah tentang memastikan bahwa visi kepala daerah bukan sekadar tulisan di atas kertas kerja, melainkan janji yang harus dilunasi kepada rakyat yang tanahnya pernah ia pijak saat memulai segalanya. (And)
