-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Air Mata Hujan dan Luka Ranah Minang, Ketika Alam Menagih Janji Kita

06 Desember 2025 | 06 Desember WIB Last Updated 2025-12-06T02:48:36Z

Musim berganti, namun baru-baru ini, langit di atas Sumatera seolah tak lagi mengirimkan berkah, melainkan air mata murka. Di bawah gelegar petir yang membelah malam, Ranah Minang dan sebagian besar Pulau Sumatera kembali dihantam badai duka. Banjir bandang dan longsor yang merenggut banyak nyawa dan asa ini bukanlah sekadar ‘kecelakaan’ alam, melainkan sebuah epilog dari kisah kerusakan yang kita tulis sendiri.


Para ahli meteorologi dari BMKG menyebut nama-nama yang asing di telinga awam. Siklon Tropis Koto dan Bibit Siklon 95 B. Mereka adalah pemicu, tamu tak diundang yang membawa serta karung-karung hujan yang tak terkira, menumpahkannya tanpa jeda, tak tertahankan. Curah hujan yang intens dan terus-menerus telah menjadi palu godam yang memecahkan ketenangan. Namun, seperti yang kita ketahui, sebuah percikan api hanya akan menjadi bencana jika ia jatuh di tumpukan jerami yang kering.


Jerami kering itu adalah ekosistem yang telah kita lucuti fungsinya.


Dibalik air bah yang kini mengalir deras di jalan-jalan, ada tangisan pilu dari Hutan yang telah hilang. Ia bukan lagi benteng hijau yang perkasa, bukan lagi spons raksasa yang sabar menyerap setiap tetes hujan. Ia telah dibabat, berganti rupa menjadi kebun sesaat, atau bahkan gurun sunyi. Laporan dari WALHI menegaskan, deforestasi di sekeliling wilayah terdampak begitu tinggi, meninggalkan bumi tanpa kulit, tanpa perlindungan.


Kita juga menyaksikan duka dari Bukit yang ditambang. Jantungnya dicabut, urat nadinya dipotong, meninggalkan lereng-lereng yang gembur, yang begitu rindu pada pelukan akar. Begitu air datang, ia tak punya pegangan, ia runtuh, membawa serta dendam bebatuan dan lumpur ke permukiman di bawahnya.


Dan yang tak kalah tragis, Sungai tak lagi punya bantaran. Garis demarkasi antara air dan daratan telah dihancurkan, dirampas untuk pembangunan atau pemukiman. Sungai, yang sejatinya adalah nadi peradaban, kini dipaksa menjadi pipa sempit yang tak sanggup menahan debit air yang meluap. Ia meluap, membalas perlakuan kita, mencari kembali ruangnya yang telah dicuri.


Ketika Alam telah dirusak, sesungguhnya kita sedang menulis naskah bencana dengan tangan kita sendiri. Setiap pohon yang tumbang adalah baris-baris peringatan yang kita abaikan.


Bencana ini adalah tamparan keras, pengingat bahwa hubungan kita dengan alam adalah kontrak hidup. Jika kita melukai salah satu pihak, pihak lain pasti akan merasakan sakitnya.


Saatnya kita berhenti merangkai kata-kata kosong dan memulai aksi nyata. Mari kita kembalikan fungsi Hutan dan Bukit yang telah terenggut. Mari kita bebaskan Sungai dari kungkungan beton dan sampah. Mari kita jadikan Sikap dan Perbuatan Nyata sebagai bahasa baru kita dalam berinteraksi dengan Ibu Pertiwi.


Sebab, kita tidak bisa hidup tanpa alam, namun alam bisa hidup tanpa kita.


Mari kita Jaga Alam, Alam akan Jaga Kita. Ini bukan sekadar diksi puitis, ini adalah Hukum Abadi yang menentukan kelanjutan peradaban kita di atas tanah yang indah ini. Mari kita dengarkan bisikan sungai yang kini meraung, dan tangisan hutan yang kini sunyi, sebelum terlambat.


Padang, 6 Desember 2025

Penulis: Andarizal

×
Berita Terbaru Update