-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Cangkul di Tangan Gubernur, Saat Pemimpin Menghapus Jarak dengan Rakyat

20 Desember 2025 | 20 Desember WIB Last Updated 2025-12-20T02:59:49Z

Sumatera Barat baru saja melewati salah satu ujian alam paling getir dalam sejarahnya. Banjir bandang dan tanah longsor datang menderu, mengubah lanskap asri menjadi hamparan lumpur yang meluluhlantakkan infrastruktur dan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Namun, di balik awan mendung dan tanah yang masih basah, muncul sebuah potret kepemimpinan yang tak lazim ditemukan di balik meja birokrasi yang kaku.


Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, memperlihatkan bahwa memimpin sebuah provinsi yang sedang berduka tidak cukup hanya dengan instruksi melalui telepon seluler atau rapat-rapat darurat di ruangan berpendingin udara. Ia memilih jalur yang lebih terjal, turun langsung ke palagan bencana.


Dalam foto-foto yang beredar dan terekam di ingatan warga, Mahyeldi tampak tidak berjarak dengan penderitaan. Mengenakan topi dinas yang kusam oleh debu dan rompi BPBD, ia terlihat berdiri di tengah gundukan tanah, memegang cangkul, dan ikut menyisihkan material longsor yang menutup akses jalan.


Aksi ini bukan sekadar teatrikal politik. Bagi warga yang sedang terisolasi, melihat pemimpinnya ikut berkeringat di bawah guyuran hujan adalah pesan visual yang kuat. "Kalian tidak sedang berjuang sendirian." Cangkul di tangan Mahyeldi menjadi simbol bahwa kedaulatan seorang pemimpin justru berada pada kesediaannya untuk kotor bersama rakyatnya.


Dari Silaing hingga pelosok kabupaten lainnya, langkah kaki Mahyeldi seakan tanpa jeda. Pasca-bencana, ia terus bergerak dari satu sudut ke sudut lain, memastikan alat berat bekerja maksimal dan bantuan sampai ke tangan yang tepat. Di tengah hujan yang masih sering turun, ia terpotret mengenakan jas hujan oranye sederhana di depan alat berat, memastikan nadi transportasi Sumatera Barat kembali berdenyut.


Ia hadir tidak hanya sebagai administrator, tetapi juga sebagai sosok ayah bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Dialog-dialognya dengan warga terdampak bukan sekadar formalitas, melainkan upaya mendengar langsung jerit hati mereka yang sedang tertatih menata kembali sisa-sisa kehidupan.


Kini, saat Sumatera Barat memasuki fase pembersihan dan pemulihan, peran kepemimpinan seperti ini menjadi krusial. Pemulihan bencana bukan hanya soal membangun kembali jembatan yang putus atau mengeruk lumpur dari jalan raya, melainkan soal memulihkan mentalitas dan harapan masyarakat.


Mahyeldi telah menetapkan standar baru tentang bagaimana seorang kepala daerah harus bersikap di masa krisis. Tegar, hadir, dan bekerja tanpa jeda. Di tangan para pemimpin yang tak kenal lelah inilah, Sumatera Barat diharapkan bisa segera bangkit, menanggalkan duka, dan kembali bersinar sebagai bumi Minangkabau yang tangguh.


Padang, 20 Desember 2025

Penulis: Andarizal, Wartawan biasa

×
Berita Terbaru Update