PADANG - 3 DESEMBER 2025 - Di tengah kepungan duka dan lumpur sisa amukan banjir bandang, Posko Bencana di Guo, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, sore itu menampilkan pemandangan yang tak biasa. Suasana yang biasanya diselimuti keheningan cemas dan keletihan, tiba-tiba pecah oleh riuh rendah tawa dan seruan kegembiraan.
“Waahh, ada mainan!” Suara lantang seorang anak menjadi penanda hadirnya secercah harapan.
Malaikat kecil penyebar kebahagiaan itu adalah Ny Dian Puspita Fadly Amran, Ketua Dekranasda Kota Padang. Ia datang bukan hanya membawa logistik yang vital bagi 313 jiwa pengungsi termasuk 50 balita dan anak-anak tetapi juga membawa sesuatu yang jauh lebih berharga, pelipur lara.
Di tengah tumpukan karung beras, pembalut wanita, dan pakaian, Ny Dian Puspita mengeluarkan bingkisan yang seketika menjadi pusat perhatian. Mainan lego, buku mewarnai, dan pensil warna. Ia membagikan susu kotak, melihat langsung bagaimana mata-mata kecil yang sempat dipenuhi ketakutan itu kini bersinar kembali.
Anak-anak berebut. Bukan berebut makanan, tetapi berebut harapan yang dibungkus dalam keriangan mainan baru. Ini adalah terapi jiwa yang sederhana namun mendalam. Ketika rumah hancur dan kenangan basah terendam, sebuah mainan baru menjadi jangkar untuk menciptakan kenangan baik yang baru.
Kunjungan Ny Dian Puspita tidak berhenti pada penyerahan bantuan. Didampingi jajaran pengurus Dekranasda dan PKK, serta pejabat seperti Sekretaris Disnakerin Destri Mulyati dan Kabag Tapem Eka Putra Bukhari, ia menyempatkan diri menyapa para ibu di dapur umum.
Asap mengepul dari tungku, menciptakan siluet kehangatan di antara kesibukan ibu-ibu yang memasak.
“Bagaimana di dapur ibu, apa ada kekurangan bahan memasak?” tanyanya lembut, sebuah sapaan yang tak hanya menanyakan logistik, tetapi juga memastikan semangat para ibu tetap menyala.
Jawaban yang diterima melegakan: stok bahan aman. Jawaban itu adalah cerminan ketangguhan kolektif. Di posko ini, yang menampung warga dari empat RT, mereka tak hanya mengandalkan bantuan, tetapi juga mengandalkan satu sama lain.
Bantuan yang diserahkan Dekranasda, berupa beras, makanan ringan, pampers, hingga pakaian dalam, adalah nafas vital. Namun, yang paling dikenang hari itu adalah interaksi manusiawi yang melampaui formalitas.
Ny Dian Puspita, istri wali kota, tak hanya melihat data dan statistik. Ia melihat kekuatan yang tersisa di mata 313 jiwa yang berkumpul, kekuatan para ibu yang sibuk di dapur, dan kekuatan harapan yang muncul dari tawa polos 50 anak-anak yang kini sibuk menyusun balok lego.
Di bawah langit Padang yang kelam, kehangatan dan kebersamaan di Posko Guo sore itu adalah bukti bahwa meskipun bencana bisa merenggut harta benda, ia tak akan pernah mampu merampas semangat dan kemanusiaan yang bersemi kembali. And)
