-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Ketika Batasku Mengajarkan Tentang Seni Melepaskan

06 Desember 2025 | 06 Desember WIB Last Updated 2025-12-06T12:44:19Z

Ada masa ketika kasih adalah kanvas, dan aku adalah seorang pelukis yang gigih, siap menimpakan warna apa pun bahkan warna gelap demi menjaga keutuhan bingkai. Aku pernah memilih menutup mata pada kesalahan yang berjejalan, bukan karena buta, melainkan karena naluri pertahanan diri yang bodoh, berharap memberi ruang bagi keajaiban bernama kesempatan untuk tumbuh.


Aku pernah menjadi pelabuhan paling hening di tengah badai, menelan ombak kekecewaan dalam-dalam, menahan setiap getar luka demi sebuah ilusi, menjaga sesuatu yang kuanggap paling berharga di semesta. Tapi, seiring waktu, aku sadar bahwa menjaga berarti juga harus tahu cara berhenti berdarah.


Kita sering lupa, bahwa kesabaran bukanlah sumur tanpa dasar. Ia adalah gelas kristal, yang ketika diisi melampaui kapasitasnya, ia akan pecah. Dan pada malam yang hening, di antara sunyi dan detak jam, aku menemukan retakan itu.


Aku menyentuh retakan itu dan berbisik pada diriku sendiri, "Setiap hati punya batas."


Kalimat itu bukan pengakuan kekalahan, melainkan manifesto kemerdekaan. Itu adalah pengakuan yang paling jujur bahwa pengorbanan terbesarku yang telah kuberikan kini harus kualihkan. Harus kuberikan kepada pemilik sahnya, diriku sendiri.


Maka, aku memilih berhenti di sini.


Bukan karena kelelahan mengasihi, tetapi karena aku lelah melupakan diri sendiri. Keputusan ini bukanlah tindakan melarikan diri, melainkan tindakan menyelamatkan diri.


Kita pernah begitu dekat, sedekat denyut nadi dengan kehidupanku. Tapi biarlah keakraban itu menjadi cerita yang tersimpan rapi, sebuah bab indah yang tak perlu dan tak akan kuulang.


Jangan pernah salah paham. Perpisahan ini tidak didasari penyesalan. Aku tidak pernah menyesali setiap tawa, setiap tatap, dan setiap pelajaran yang kau tinggalkan. Justru, aku bersyukur pernah bertemu dan mengenalmu, kau adalah guru yang keras dalam mendefinisikan arti batas dan pelepasan.


Namun, lautan kehidupan kini meminta kita berlayar di arah yang berbeda.


Untuk hari-hari ke depan, biarlah kita kembali pada peran mula-mula, tetap asing. Biarlah semesta bekerja sekeras apa pun untuk menyatukan langkah kita, aku akan tetap teguh pada pilihanku untuk berjalan sendiri. Karena kini aku tahu, pelepasan yang paling tulus adalah ketika kita bisa mengucapkan selamat tinggal, sambil tetap mendoakan kebahagiaan dari kejauhan yang terhormat.


Pergi dengan damai, dan biarkan aku menemukan damai itu lagi dalam diriku sendiri.


Padang, 6 Desember 2025

By: Andarizal

×
Berita Terbaru Update