-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Pelabuhan Sunyi untuk Harga Diri, Seni Mundur dengan Elegansi

05 Desember 2025 | 05 Desember WIB Last Updated 2025-12-05T14:01:30Z

Di sudut-sudut jiwa, terdapat sebuah peta yang tidak tercatat di dunia luar peta yang menunjukkan batas-batas terdalam dari keberanian dan kesabaran kita. Terkadang, kita berjalan terlalu jauh, melampaui garis kewarasan, hanya demi secercah harapan yang terus-menerus meredup.


Kita tidak diciptakan untuk menjadi bejana kosong yang tak henti diisi dengan rasa sakit dan diabaikan. Jangan pernah memaksa bertahan di tempat yang membuatmu kehilangan diri sendiri. Sebab, setiap detik yang dilalui dalam kekosongan itu adalah pengkhianatan terhadap siapa diri kita yang seutuhnya. Ada sunyi yang lebih mematikan daripada ditinggalkan, yaitu sunyi di dalam diri sendiri karena terlalu keras berjuang di luar.


Rasa sayang, pengakuan, atau perjuangan yang terus dikejar tanpa pernah mendapat balasan setara, hanyalah sebuah siklus tanpa henti yang memakan habis inti terdalam kita. Perasaan yang terus dikejar tanpa dihargai, hanya akan melukai lebih dalam dari yang disadari. Luka itu bukan hanya goresan, melainkan retakan perlahan pada fondasi harga diri kita.


Kita berharap bahwa ketulusan adalah mata uang universal. Namun, realitas seringkali menyajikan pelajaran pahit, tidak semua tangan yang kita raih atau dirangkul akan menggenggam balik dengan kehangatan yang sama.


Di sinilah kebijaksanaan sejati mengambil alih kemudi dari emosi yang memberontak. Belajarlah mundur dengan tenang, karena tidak semua perjuangan harus berujung memiliki. Ada kemuliaan yang lebih besar dalam pelepasan. Memiliki sesuatu dengan bayaran kehilangan diri sendiri adalah kerugian yang paling mahal.


Mundur dengan tenang bukan berarti menyerah, melainkan memilih medan perang yang baru, medan perang di mana kita adalah raja atas kerajaan hati kita sendiri. Kadang yang paling bijak adalah pergi, saat kita sadar penghargaan, kasih sayang sudah tidak lagi dihitung dari ketulusan. Ketika metrik nilai telah bergeser dari hati menjadi transaksi, maka saatnya mencari pelabuhan yang lebih jujur.


Harga diri bukanlah teriakan perlawanan yang bising. Ia adalah bisikan keyakinan yang kuat. Harga diri tidak perlu dibuktikan dengan kata-kata, cukup dengan keputusan untuk berhenti disia-siakan.


Biarkan keputusan menjadi puisi yang paling elegan, puisi tentang kedaulatan atas jiwa. Buktikan bukan dengan berdebat, melainkan dengan beranjak. Dengan langkah kaki yang tenang menjauhi arena penyia-nyiaan, kita mendirikan monumen paling megah untuk menghormati diri sendiri. Itu adalah babak baru di mana kita mengajarkan dunia, inilah batasnya. Di sini, aku memilih diriku.


Padang, 5 Desember 2025

By: Andarizal

×
Berita Terbaru Update