Waktu bukanlah sekadar detak yang memburu di balik jam dinding, ia adalah sang penenun tak terlihat yang merajut hari-hari kita menjadi sehelai kain takdir. Di bawah rimbunnya pepohonan hidup, kita berdiri di tepian sebuah sungai yang mahaluas, menyaksikan airnya yang berbisik tentang rahasia keabadian dan kefanaan yang berkelindan.
Hidup kita adalah bentang musim yang tak pernah statis. Ada kalanya, batin kita menyerupai permukaan telaga di pagi yang buta, tenang, jernih, dan jujur. Di sana, kita bisa melihat pantulan langit yang maha luas, seolah seluruh kedamaian semesta tumpah ruah ke dalam dada. Itulah saat-saat di mana kebahagiaan terasa begitu sederhana, seringan hembusan angin yang membelai daun-daun hijau.
Namun, langit tidak selamanya membiru. Akan datang saatnya awan kelabu berarak, membawa hujan yang menghujam permukaan. Seketika, aliran itu menjadi keruh dan penuh gelombang. Lumpur keresahan naik ke permukaan, mengaburkan arah dan menyisakan dingin yang menusuk. Namun, ingatlah bahwa sungai tak pernah membenci hujan. Ia tahu bahwa kekeruhan adalah sebuah proses penyucian, sebuah cara alam untuk mendewasakan arus sebelum ia sampai di samudera.
Ada kegetiran yang indah dalam kalimat. "Air tak pernah kembali ke hulu." Ini adalah sebuah pengingat bahwa setiap detik yang kita lalui adalah sebuah perpisahan yang megah. Kita tidak bisa kembali untuk membenarkan kata-kata yang salah ucap, atau memeluk kembali rindu yang telah usang.
Hulu adalah masa lalu, sebuah titik awal yang penuh memori. Namun, sungai mengajarkan kita bahwa takdir air bukan untuk menetap, melainkan untuk merelakan. Jika air bersikeras kembali ke hulu, ia akan melawan kodrat semesta dan kehilangan jati dirinya. Maka, kita pun belajar untuk membiarkan apa yang telah lewat menjadi pupuk bagi kearifan kita di masa depan.
Menjadi manusia berarti belajar untuk mengalir dengan anggun. Kita belajar untuk tidak menggenggam air terlalu erat, karena ia akan selalu menyelinap di sela jemari. Kita belajar bahwa meski air berubah warna mengikut musim, esensinya tetaplah sama, ia adalah kehidupan.
Biarkan waktu membawamu melewati bebatuan tajam dan lembah yang gelap. Tetaplah mengalir. Sebab, meski kita tak pernah tahu apa yang menanti di tikungan sungai berikutnya, kita tahu bahwa setiap tetes air yang bergerak maju sedang menuju ke sebuah Muara Kedamaian, tempat di mana segala kekeruhan akan mengendap, dan segala arus akan menemukan istirahatnya yang paling purba.
Padang, 29 Desember 2025
By: Andarizal
