-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tersembunyi di Balik Air, Kisah Pilu Pengungsi Tugu Kabun Puti Berakhir, BPBD Padang Tegaskan Bantuan Sudah Tiba

03 Desember 2025 | 03 Desember WIB Last Updated 2025-12-03T08:57:31Z

PADANG - 3 DESEMBER 2025 - Kisah pilu puluhan warga Tugu Kabun Puti, Lubuk Minturun, yang sempat terisolasi dan harus tidur berhimpitan di lantai keramik musala, kini berangsur berakhir dengan tibanya uluran tangan pemerintah. Namun, munculnya laporan darurat yang viral di media sosial sempat memicu bantahan keras dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang.


Kawasan Tugu Kabun Puti, yang berlokasi di arah Muko BBI Lubuk Minturun, seolah menjadi area yang 'tersembunyi' dalam pusaran musibah banjir besar yang melanda Sumatera Barat. Akses yang sulit dan posisi yang "agak tersuruk" membuat lokasi ini luput dari pendataan awal tim evakuasi resmi.


Sejak air bah menerjang, sejumlah rumah di sana mengalami keretakan parah dan nyaris ambruk. Puluhan jiwa, termasuk anak-anak yang masih balita, terpaksa meninggalkan kediaman mereka.


Dalam sebuah foto yang menyentuh hati, terkuak gambaran nyata pengungsian darurat, puluhan warga, tua dan muda, berbaring rapat di atas tikar seadanya. Mereka berbagi ruang, berdesakan dalam kehangatan yang tercipta dari selimut lusuh, bantal tipis, dan kain sarung. Pilar beton yang tegak di tengah musala seolah menjadi saksi kelelahan dan kecemasan yang mendalam, menanti bantuan yang tak kunjung datang.


"Yang di Padang yang ado chanel untuk membantu warga yang keno musibah banjir Sumbar... Iko ado warga Tugu Kabun Puti, arah Muko BBI Lubuk Minturun, yang kondisi beberapa rumah di situ lah ratak-ratak (sudah retak-retak), warga situ kini lalok di musala yang masih bisa digunakan," demikian bunyi pesan berantai yang menjadi alarm bagi para relawan pada Rabu pagi (3/12).


Laporan yang menyebut warga terisolasi dan menanti bantuan segera dibantah oleh Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton. Ia menanggapi pemberitaan tersebut dengan nada tegas.


"Makan diagiah 2 x sahari (Makan diberi 2 kali sehari)," ujarnya singkat, sembari meneruskan dokumentasi berupa foto yang menunjukkan tumpukan karung bantuan logistik berwarna biru telah diserahkan.


Tim gabungan Kolaborasi Jurnalis Indonesia (KJI) kemudian mencoba menghubungi salah seorang pengungsi di lokasi. Konfirmasi datang dari seorang pengungsi berinisial Yuli di Whatsapp. 


"Benar Pak, bantuan sudah datang kemarin," ucap Yuli, membenarkan bahwa logistik dasar telah menjangkau kantong pengungsian terpencil tersebut, menutup celah isolasi yang sempat dirasakan warga.


Foto yang dilampirkan oleh BPBD memperlihatkan sejumlah warga, termasuk anak-anak dan para ibu, berpose di depan tumpukan karung bantuan. Kehadiran logistik tersebut menjadi penanda, bahwa meskipun terlambat didata karena letak yang tersembunyi, sentuhan perhatian akhirnya berhasil menembus kepungan air, memberikan kelegaan bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal. (And) 

×
Berita Terbaru Update