Di bawah langit senja yang mulai meredup, ada sebuah suara yang berbisik lebih tenang dari angin, namun lebih tajam dari sembilu. Ialah suara seorang ayah, pilar yang tahu bahwa suatu saat ia akan rubuh, meninggalkan anak-anaknya di tengah belantara dunia yang tak kenal ampun.
Ayah mengerti, menjadi kakak dan adik bukanlah tentang jalan setapak yang selalu rata. Ada kalanya langkah kalian saling beradu, lidah mengeluarkan duri, dan ego membangun tembok yang tinggi. Kalian mungkin saling melukai tanpa sadar, menganggap bahwa perbedaan pendapat adalah alasan untuk berpaling muka. Namun, di balik setiap perdebatan itu, ayah ingin kalian melihat lebih dalam ke bawah kulit kalian.
Lihatlah pergelangan tangan kalian. Di sana mengalir sungai merah yang sama. Darah yang mengalir di tubuhmu, juga berdenyut di jantung adikmu. Darah yang memberi hidup padamu, adalah kehidupan yang sama bagi kakakmu. Kita adalah satu akar yang tumbuh menjadi dahan-dahan berbeda, namun tetap meminum dari sumber kehidupan yang sama.
"Saat aku tak lagi berdiri di tengah kalian sebagai penengah, saat punggungku tak lagi bisa menjadi tempat kalian bersandar, maka peluklah satu sama lain. Karena pada akhirnya, hanya kalianlah sisa-sisa keberadaanku di dunia ini."
Dunia di luar sana sangatlah keras. Ia akan mengujimu dengan kegagalan, menghempaskanmu dengan kesepian, dan membekukanmu dengan ketidakpedulian. Saat itu terjadi, jangan mencari hangat di tempat jauh. Jadilah "rumah" bagi saudaramu. Jadilah atap saat ia kehujanan, dan jadilah dinding kokoh saat ia hampir roboh.
Jangan biarkan ego yang hanya sesaat meruntuhkan bangunan persaudaraan yang telah kita bangun bertahun-tahun. Jarak yang kau anggap sepele hari ini, hanya karena enggan menyapa atau malas meminta maaf, bisa berubah menjadi jurang kehilangan yang tak berdasar di esok hari.
Seringkali kita merasa waktu masih panjang. Kita berpikir bisa berbaikan "nanti," bisa menelepon "besok," atau bisa memeluk "kapan-kapan." Namun ingatlah, waktu adalah pencuri yang bekerja dalam sunyi. Jangan biasakan saling menjauh, karena kita tidak pernah tahu kapan garis takdir akan menarik salah satu dari kalian ke tempat yang tak lagi terjangkau oleh suara.
Maka hari ini, selagi napas masih menjadi milik kita bersama, rangkullah saudaramu. Katakan melalui tatapan mata bahwa meskipun dunia berantakan, kalian akan selalu punya tempat untuk pulang, satu sama lain.
Padang, 31 Januari 2026
By: Andarizal
